Jakarta, 16 Januari 2026 – Pengamat Militer dan Pertahanan, Prof. Connie Rahakundini Bakrie, menghadiri acara peringatan 52 tahun Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974 sekaligus HUT ke-26 Indemo di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026).
Acara ini juga dihadiri aktivis era reformasi, termasuk Hariman Siregar, serta sejumlah aktivis lain yang tergabung dalam Indemo.
Dalam kesempatan itu, Hariman menekankan pentingnya peringatan Malari sebagai ruang untuk menyuarakan kegelisahan masyarakat sipil dan media, khususnya di tengah dinamika demokrasi saat ini. Menurutnya, Indemo lahir dari refleksi pasca-Reformasi 1998, ketika banyak aktivis dihadapkan pada pilihan antara masuk politik praktis atau tetap bergerak di jalur masyarakat sipil.
“Kami bertemu dan berdiskusi, ingin tahu mau apa setelah ini. Tidak semua orang ingin masuk politik, sebagian besar tetap di jalur masyarakat sipil. Di situlah tempat bagi aktivis yang memilih tidak berpolitik,” kata Hariman.
Hariman juga menyoroti kondisi demokrasi Indonesia saat ini yang menurutnya mirip dengan periode awal 2000-an, di mana kebebasan yang dibuka lebar perlahan mulai menyempit. Ia menilai bahwa demokrasi kini sering digunakan sebagai alat legitimasi elite politik, sementara rakyat kehilangan peran kontrol.
“Rakyat masih disuruh memilih, tapi tidak mengontrol. Demokrasi jadi alat legitimasi bagi yang berkuasa,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa solusi bagi persoalan demokrasi bukan terletak pada figur pemimpin yang kuat, melainkan pada institusi negara yang kokoh.
“Kita tidak bisa sekadar mengharapkan pemimpin yang kuat. Kita butuh negara yang kuat, negara yang institusinya kuat,” pungkas Hariman.
Sementara itu, Prof. Connie Rahakundini Bakrie memberikan apresiasi atas peringatan tersebut. Menurutnya, peristiwa Malari adalah tonggak sejarah perlawanan mahasiswa terhadap otoritarianisme, ketimpangan ekonomi, dan dominasi modal asing di Indonesia.
“Aksi ini menjadi simbol keberanian intelektual generasi muda yang menuntut kedaulatan nasional dan keadilan sosial,” ujar Connie.
Connie menyoroti peran Hariman Siregar sebagai figur sentral gerakan mahasiswa 1974:
“Bukan sebagai simbol kekerasan, tetapi sebagai suara moral kampus yang berani mengkritik kekuasaan. Hariman mewakili tradisi mahasiswa sebagai nurani bangsa: berpikir kritis, bersuara jujur, dan siap menanggung risiko demi kebenaran.”
Ia menambahkan, peringatan Malari mengingatkan bahwa demokrasi membutuhkan keberanian, dan pembangunan harus berpihak pada kedaulatan, keadilan, serta martabat bangsa.
(DW).















