Jakarta,- Budiman Sudjatmiko Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Republik Indonesia tampil di acara Closing Bell CNBC Indonesia pada hari Kamis (15/1/2026).
Dalam kapasitasnya sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), ini dirinya membagikan pandangan visioner dan strategi konkret dalam membangun keadilan sosial dan kesejahteraan di negeri ini.
Acara tersebut membahas langkah nyata dan cara kerja BP Taskin di bawah kepemimpinan Budiman Sudjatmiko dalam upaya mengurangi kemiskinan dan mencapai target kemiskinan ekstrem 0% pada tahun 2026, yang merupakan visi dari Presiden Prabowo Subianto.
Badan baru ini bertugas menyusun rencana induk, mengoordinasikan, mempercepat, dan merapikan data terkait aktivitas pengentasan kemiskinan di berbagai kementerian dan lembaga pemerintah.
Fokus utama badan ini adalah pengentasan kemiskinan secara fundamental, bukan hanya melalui bantuan tunai, tetapi dengan memberdayakan masyarakat miskin.
Dalam paparanya mantan aktifis 1998 ini menjelaskan bahwa “2027 Insya Allah sesuai target orang Indonesia kecuali yang difabel dan ODGJ siap menjadi pelaku yang produktif dari Ekonomi baru Prabowo nomics” , yaitu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa
melalui peningkatan skill lewat sekolah sekolah rakyat yang akan dibangun oleh Presiden Prabowo Subianto.
Sebanyak 7000 sekolah yang terintegrasi disetiap kecamatan yang nantinya setiap orang miskin, individu miskin yang masih usia belajar wajib sekolah, dengan kualitas pendidikan bertaraf nasional bahkan Internasional.
Memastikan orang tuanya masuk dalam sektor produktif utama baik formal maupun informal, yang formal menjadi pekerja, sedangkan yang informal bisa menjadi pelaku UMKM atau menjadi bagian dari koperasi dalam kegiatan pelayanan makanan bergizi gratis, sehingga kemudian keuntungan dari bisnis, keuntungan dari kegiatan arus utama ekonomi yang selama ini ada itu kita buatkan salurannya agar menjadi bagian dari rantai pasok baru mendapatkan gaji atau mendapat keuntungan dari bisnis proses yang terjadi disetiap daerah.
Itulah yang menjadi target BP Taskin sinergi percepatan pengentasan Kemiskinan.
Kemudian untuk mengurangi kemiskinan, BP Taskin akan mengalokasikan dana yang sebelumnya digunakan untuk bansos, menjadi program-program produktif seperti pembukaan lapangan pekerjaan.
“Kalau orang miskin masih kuat, wajib hukumnya mereka diintegrasikan ke dalam 9 amal usaha ekonomi modern,” jelasnya.
Dalam program ini ada 9 sektor yang disasar untuk pembukaan lapangan kerja untuk masyarakat miskin. Budiman menyebutkan program ini industrialisasi yang memerdekakan masyarakat miskin.
Sebanyak 9 sektor sasaran industrialisasi tersebut adalah industri pangan, industri pengolahan, industri kesehatan, industri pendidikan, industri hunian, industri kreatif, industri digital, industri transportasi, dan energi terbarukan.
Budiman menganalogikan bansos yang diberikan pemerintah hanya sebagai pelampung agar masyarakat miskin tidak tenggelam. Sehingga manfaat dari program ini hanya sementara.
Sebaliknya, program-program produktif seperti industrialisasi yang menyediakan lapangan pekerjaan agar masyarakat bisa meningkatkan sejahtera.
Dalam program industrialisasi ini terdapat 9 sektor yang terlibat. Budiman menyebut ada 9 perahu yang disediakan BP Taskin agar masyarakat miskin bisa keluar dari kemiskinan.
“Agar pengentasan kemiskinan tidak sekadar memberikan pelampung, karena banyak juga yang sudah dikasih pelampung, sudah saatnya ngentas ke perahu, akhirnya terlalu nyaman (jadi penerima bansos). Nah BP Taskin menyediakan 9 jenis perahu itu,” tutur Budiman.**
DW.















