Kabupaten Berau, Kalimantan Timur — Tumpukan kayu gelondongan yang terdampar di pesisir Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kini menjadi pemandangan yang mengusik mata wisatawan. Puluhan batang kayu berukuran besar terlihat menumpuk di sepanjang garis Pantai Indah, Kampung Teluk Harapan—kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus akses utama menuju Dermaga Spied.
Pantai yang kerap menjadi etalase pariwisata bahari Berau itu perlahan kehilangan wajahnya. Kayu-kayu berdiameter besar tampak berserakan, sebagian terendam air laut, sebagian lain menghalangi jalur lalu-lalang wisatawan. Warga menyebut tumpukan kayu tersebut sudah terjadi cukup lama, namun belum ada upaya pembersihan menyeluruh dari pemerintah daerah.
“Kalau dibiarkan begini, wisatawan bisa kapok datang,” kata Rudi, pelaku UMKM di sekitar Pantai Indah, Senin, 9 Februari 2026. Ia mengaku tak mampu berbuat banyak. Ukuran kayu yang besar dan berat membuat warga mustahil mengevakuasi secara mandiri. “Ini butuh alat berat dan kapal angkut. Kami tidak punya kemampuan itu,” ujarnya.
Keberadaan kayu gelondongan bukan hanya merusak estetika kawasan wisata unggulan Kabupaten Berau, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi warga pesisir yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata. Sejumlah pelaku usaha mengeluhkan penurunan jumlah pengunjung akibat kondisi pantai yang kotor dan terkesan terbengkalai.
Asal-usul kayu gelondongan tersebut hingga kini belum diketahui secara pasti. Warga menduga kayu-kayu itu merupakan kiriman arus laut dari aktivitas penebangan di wilayah lain. Namun, ketiadaan kejelasan sumber justru memperpanjang persoalan. “Kami tidak tahu ini kayu dari mana. Yang jelas, sekarang menumpuk di pantai kami,” kata seorang warga setempat.
Selain mengganggu pemandangan, tumpukan kayu juga dinilai membahayakan keselamatan aktivitas wisata bahari. Kayu yang hanyut dan mengapung berpotensi menghambat pergerakan perahu kecil, membahayakan wisata snorkeling, serta mengancam ekosistem pesisir. Beberapa nelayan mengaku harus ekstra hati-hati saat merapat ke pantai karena khawatir baling-baling perahu tersangkut batang kayu.
Warga menilai persoalan ini semestinya menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Berau sebagai instansi teknis yang memiliki kewenangan dalam penanganan sampah dan pencemaran lingkungan pesisir. Hingga kini, belum tampak langkah konkret maupun solusi jangka panjang untuk menangani tumpukan kayu tersebut.
“Maratua ini wajah pariwisata Berau di mata dunia. Kalau pantainya saja kotor dan dibiarkan, bagaimana orang mau percaya dengan komitmen pengelolaan lingkungan kita,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan dengan penanganan terkoordinasi—mulai dari pembersihan menyeluruh, penelusuran sumber kayu kiriman, hingga upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Tanpa langkah tegas, tumpukan kayu gelondongan di Pantai Maratua dikhawatirkan menjadi preseden buruk bagi tata kelola lingkungan di kawasan wisata unggulan Kabupaten Berau.
Tim DK.















