Jakarta,- Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP), Theo Hesegem, mendatangi sejumlah lembaga tinggi negara untuk mengadvokasi empat dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia sepanjang 2025 di Papua.
Salah satu kasus paling menonjol adalah dugaan pembunuhan seorang anak berusia tujuh tahun di Kabupaten Nduga. Kasus ini juga disertai dugaan penghilangan paksa jenazah korban.
Peristiwa terjadi pada Desember 2025 di Distrik Gearek, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan. Theo memimpin langsung tim investigasi yang menempuh
perjalanan sekitar 24 jam menuju lokasi. Investigasi dilakukan untuk memverifikasi laporan warga. Tim mengumpulkan kesaksian langsung dari korban dan saksi.
Menurut temuan awal, terjadi serangan udara yang diduga menggunakan mortir oleh aparat Tentara Nasional Indonesia. Serangan berlangsung saat warga beraktivitas pagi hari, di tengah kepanikan warga berupaya menyelamatkan diri.
Kesaksian utama datang dari Wina Kerebea, ibu korban berusia 35 tahun. la mengaku
sedang menuju kebun saat helikopter militer
melakukan penyerangan dari udara. Dalam kepayahan, ia berlari sambil menggendong anaknya, Arestina Goban yang berusia 7 tahun. Menurut kesaksiannya, arestina diduga tertembak di bagian kepala.
Wina juga terkena serpihan mortir di paha kanan. la menyebut tidak ada fasilitas kesehatan di lokasi kejadian.
Dalam kondisi luka, ia tetap berusaha menyelamatkan anaknya yang lain.
Menurut kesaksian keluarga, setelah anak tersebut terjatuh, oknum aparat diduga menendang tubuh korban ke dalam parit.
Hingga kini, jasad Arestina belum ditemukan. Keluarga meminta aparat menunjukkan keberadaan jenazah.
Permintaan pertanggungjawaban ini disampaikan langsung kepada tim investigasi.
Upaya pencarian dilakukan warga bersama tim kemanusiaan pada 14-16 Desember 2025. Lokasi terakhir jasad diperlihatkan oleh ibu korban. Barang milik korban seperti pakaian dan noken ditemukan. Namun keberadaan
jasad Arestina tetap tidak diketahui.
Sepanjang 2025, Theo Hesegem juga memaparkan sejumlah kasus kekerasan lain yang dinilai belum mendapatkan penegakan hukum yang serius.
Pada Juni 2025 terjadi penyerangan yang menewaskan satu warga sipil dan membuat sekitar 600 warga mengungsi, namun penegakan hukumnya belum jelas.
Pada September 2025, kerusuhan bermuatan rasisme menewaskan satu orang asli Papua dan satu warga non-Papua, disusul operasi militer 0ktober 2025 yang menyebabkan satu orang tewas serta seorang lansia hilang.
Menurut Theo, pemerintah Indonesia perlu
segera memutus rantai kekerasan bersenjata
yang terus berulang di Tanah Papua.
“Kalau bicara manusia ini kan Tuhan menciptakan manusia itu kita bentuknya sama saja. TNI, Polri, kan sama saja. Dan ini adalah rantai kekerasan yang harus kita putuskan,” tuturnya Kamis (12/2/2026).
Pihak Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua bersama koalisi masyarakat sipil telah melaporkan temuan ini ke Komnas HAM, Komnas Perempuan, KPAI, dan LPSK.
Sumber : Konten dikeola dari artikel berjudul Bocah Nduga Tewas dan Jasadnya Diduga Dihilangkan, Theo Hesegem Laporkan ke Jakarta di suara.com
DW.















