Hasil pantauan dan prediksi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) tentang cuaca, iklim dan fenomena geofisika pada sepekan ini teras udara sangat panas, seakan tiada angi sepoi yang berhembus untuk menyejukkan kehidupan makhluk hidup serta tumbuh- tumbuhan. Akibatnya semua kehidupan jadi terasa meranggas. Panas. Apalagi alat pendingin di rumah mengalami kerusakan, sehingga perlu pengganti atau segera diperbaiki.
Udara yang terasa penas, jelas belum mencapai 40 derajat celcius. Tapi hikmah dari udara yang terasa panas itu menghantar masuk perenungan, betapa dahsyatnya panas di dalam neraka yang acap diceritakan oleh guru agama dahulu ketika masih di Sekolah Rakyat, seribu kali lipat dari panasnya bara api yang digunakan untuk memasak di dapur. Dari udara panas yang sangat membuat hidup tidak nyaman ini, jelas menunjukkan juga atas kuasa Tuhan pada jagat raya dan seisinya, termasuk siklus alam yang sedang tidak menentu, seperti lebat yang tiba-tiba mengguyur Jakarta, pada hari Senin, 27 April 2026 serta kecelakaan Kereta Api yang bertabrakan dengan Kereta Listrik di Stasiun Bekasi.
Artinya, masalah insiden dengan cuaca ekstrim yang membuat udara begitu panas, sungguh berada di luar kemampuan kendali manusia, namun dalam perspektif spiritual realitas memang acap disaksikan kemudian dalam hidup dan kehidupan yang nyata. Minimal dari permenungan kesadaran seperti ini, manusia semakin menyadari bahwa sesungguhnya tidak memiliki hal serta otoritas yang sepenuhnya pada dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain.
Udara yang cukup panas membuat warga Jakarta dan sekitarnya merasa gerah bila tidak menggunakan alat pendingin sungguh sangat terganggu dan sulit melakukan konsentrasi untuk berbagai kegiatan. Apalagi yang harus ditopang oleh suasana hati yang nyaman, tidak seperti hidup yang sering diilustrasikan semacam di neraka.
Istilah neraka dan surga sendiri — yang sebelumnya mungkin selalu diabaikan makna dari metafora sakralitasnya kini mulai mendapat tempat dalam perenungan spiritual yang bisa membantu untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Bahwa sekedar untuk menerima sunnatullah yang diturunkan dari langit itu, manusia nyaris tiada memiliki kekuatan apa-apa, kecuali tawadhu dan tahmid dihadapan Yang Maha Kuasa atas jagat raya dan seisinya ini.
Pada bagian dunia yang lain, Tuhan memberi udara dan cuaca yang Leh ekstrim. Dingin ! Bayangkan saja jika ada manusia normal, cukup merasa nyaman dan pas hidup di dalam cuaca dan udara 28 derajat seperti standar AC (Air Condition), maka dalam cuaca dan udara yang lebih rendah misalnya antara 14 hingga 8 derajat justru merasa tidak lagi nyaman. Apalagi bila mengalami suhu dingin yang berada minus derajat di bawah nol, maka yang terjadi dapat mengakibatkan kematian, seperti hewan dan tetumbuhan yang tidak bisa hidup di dataran salju itu.
Pada kesempatan menikmati suasana momentum seperti di Eropa ini yang dingin — bahkan sering berada pada derajat dibawah titik nol — kondisi demikian ini jelas menjadi bukti dari kebesaran dan kekuasaan Tuhan atas alam dan jagat raya ini serta segenap tetumbuhan serta makhluk hidup yang ada. Jadi yang terjadi, adalah usaha manusia untuk mengatasi kondisi yang begitu dingin — atau panas seperti yang tengah melanda Indonesia serta sejumlah tempat lainnya di dunia — melakukan upaya untuk hidup dalam kondisi dan situasi serupa itu dengan hasil rekayasa pemikiran — sebagai anugrah Tuhan — sehingga manusia disebut saru-satu makhluk yang memiliki daya kemampuan berpikir dibanding makhluk Tuhan yang lain. Toh, sudah begitu pun, daya pikir manusia pun tidak berarti cukup, bila tidak disertai oleh keyakinan dan kepercayaan yang hanya terdapat dalam dimensi kemampuan spiritualitas yang memiliki kemampuan daya jelajah dari intelektualitas. Oleh karena itu potensi intelektual manusia akan lebih sempurna jia di lengkapi oleh kecerdasan spiritual.
Banten, 28 April 2026















