JAYAPURA – Komunitas sastra Papua menyoroti sosok Socrates Yoman melalui puisi “Socrates Yoman, Pena untuk Papua”. Karya Samson Ginia, S.Pd itu beredar luas sejak Minggu 31/5/2026 sebagai penghormatan bagi teolog dan penulis yang konsisten merawat sejarah Papua tanpa menyembunyikan luka.
Puisi 9 bait tersebut menyorot Socrates Yoman sebagai penulis yang memilih sunyi bersama kertas dan tinta, bukan kuasa. Bagi Samson, Socrates adalah “bapa bangsa yang penulis” karena merawat harapan Papua lewat kalimat.
*Menulis untuk Yang Tak Didengar*
Samson menyebut perjumpaan langsung dengan Socrates Yoman menginspirasi karya itu. Ia melihat ketenangan Socrates bukan sebagai orator podium, melainkan penjaga ingatan lewat tulisan.
Berikut puisi lengkap “Socrates Yoman, Pena untuk Papua” karya Samson Ginia, S.Pd:
> *Socrates Yoman, Pena untuk Papua*
> _Puisi oleh Samson Ginia, S.Pd_
> Di antara bising dunia, ia memilih sunyi,
> Bersama kertas dan tinta, ia berdiri.
> Bukan kuasa yang ia cari,
> Tapi suara bagi yang lama tak didengar dan sejarah yang disembunyikan.
> Socrates Yoman menulis dengan jernih,
> Menyusun sejarah tanpa menyembunyikan luka.
> Kata-katanya jujur, tenang, tapi menusuk,
> Mengingatkan bahwa martabat tak bisa ditawar.
> Bapa bangsa yang penulis,
> Ia merawat harapan lewat kalimat.
> Selama tulisannya hidup,
> Selama itu Papua tetap berbicara.
“Saya melihat sendiri ketenangan beliau. Bukan orator di podium, tapi penjaga ingatan lewat tulisan,” ujar Samson Ginia,S.Pd kepada awak media, Minggu 31/5/2026.
*Martabat Tak Bisa Ditawar*
Melalui buku _Di Antara Dua Dunia: Papua di Era Milenial_ dan berbagai esai, Socrates Yoman dikenal konsisten menyuarakan martabat rakyat Papua. Baris penutup puisi Samson kini dikutip luas pegiat literasi: “Selama tulisannya hidup, selama itu Papua tetap berbicara”.
Bagi Samson, menulis adalah cara mendokumentasikan sejarah dari kacamata orang Papua sendiri. Puisi itu, kata dia, pengingat bahwa martabat tidak bisa ditawar.
“Kata-katanya jujur, tenang, tapi menusuk, mengingatkan bahwa martabat tak bisa ditawar,” kata Samson.
*Tentang Penulis Puisi*
Samson Ginia, S.Pd adalah penulis dan pendidik asal Papua. Ia aktif menulis puisi dan esai yang mengangkat isu sejarah, identitas, dan martabat masyarakat Papua.(**).
DW














