Medan Merdeka Selatan, Jkt, 10 Juni 2026, Gagasan untuk Mengembangkan pekerja profesi yang Kreatif, Inovatif dan Inventif agar mereka bisa terus berkarya, sudah saatnya Indonesia memiliki yayasan atau sejenis foundation untuk mendukung pendanaan bagi seniman, budayawan, kaum intelektual maupun dosen serta para penulis, agar dapat hidup layak dan patut agar tetap konsisten dan tangguh dalam menekuni bidang pekerjaannya untuk berperan maksimal membangun bangsa dan negara berjaya.
Gagasan menarik dari Prof. Dr. Imam Prasojo dari seminar
“Asrul Sani Dalam Dinamika Kebudayaan Indonesia” yang diselenggarakan HISKI (Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia) Pusat, Pelaku Sanggar Pelakon dan Perpusnas (Perpustakaan Nasional), pada 10 Juni 2026 di Jakarta, mencuat gagasan untuk memberi semacam jaminan kepada seniman, sastrawan, budayawan serta kaum intelektual dan penulis Indonesia Agar dapat semakin giat berkarya sesuai dengan profesi pekerjaannya untuk mengembangkan, bakat, minat serta gagasan maupun ide kreatifitasnya, baik dalam bentuk karya seni, tulisan atau hasil penelitian ilmiah yang kreatif, inovatif dan inventif termasuk intelektual kampus — termasuk dosen dari berbagai kampus — yang tidak cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam standar yang wajar.
Yayasan atau sejenis foundation penyedia dana, sehingga kaum intelektual Indonesia dapat terus berkarya sesuai dengan bidang pekerjaannya, diharap dapat makin bergairah dalam upaya ikut mencerdaskan kehidupan bangsa yang lebih baik, lebih kreatif dan lebih bergairah untuk terus berkarya.
Gagasan perlu adanya semacam yayasan atau foundation penyedia dana sangat diperlukan dan perlu menjadi perhatian pemerintah, ujar Prof. Dr. Imam Prasojo sebagai salah satu nara sumber seminar yang mengacu pada pengalaman pribadinya saat tinggal bersama penyair Taufik Ismail yang mengetahui banyak seniman berdatangan hanya untuk minta bantuan atau pinjam uang, karena kesulitan ekonomi hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama keluarganya.
Agaknya, karena itulah Imam Prasojo tampil sebagai nara sumber dengan “mengklaim” Asrul Sani sebagai seniman, budayawan atau pekerja budaya sebagai sosok yang kaya karena memiliki Mutiara (Sarumpaet) yang berbobot tidak kurang dari 50 kilogram itu. Klaim yang bersifat “sanepo” ini keruan saja membuat peserta seminar terpingkal-pingkal karena Mutiara Sarumpaet yang dimiliki Asrul Sani itu adalah “sang istri” yang memang bernama Mutiara.
Gagasan cemerlang Prof. Imam Prasojo, tentu saja mendapat sambutan dan dukungan positif dari peserta seminar yang umumnya adalah seniman, budayawan, penulis dan pekerja kreatif lainnya yang selama ini tidak mendapat perhatian dari pemerintah.
Gagasan Prof. Imam Prasojo pun secara terang benderang mengungkapkan profesinya sebagai dosen yang merasa begitu rendah penghargaan dalam bentuk gaji yang tidak memadai untuk memenuhi keperluan hidup layak. “Kalau pun tetap bisa bertahan, karena mendapat berbagai tunjangan. Dan realitasnya tidak sedikit kawan-kawan dosen pun yang bekerja ekstra keras, merangkap kerja sebagai pengajar di berbagai universitas atau menekuni pekerjaan lain hanya untuk mencukupi kebutuhan ekonomi yang pas-pasan”, ujarnya.
Gagasan genial para seniman, budayawan, kaum intelektual serta penulis Indonesia bukan tidak pernah dilontarkan. Setidaknya sudah beberapa kali dilontarkan (Baca : Jacob Ereste), agar pemerintah menyisihkan semacam dana abadi seperti yang telah dilakukan berbagai negara yang lebih beradab untuk menghargai kerja kreatif yang keras dari para anak bangsa untuk ikut mempercepat laju kemajuan segenap warga bangsa untuk terbebas kemiskinan dan kebodohan seperti yang telah diamanahkan oleh UUD 1945.
Pihak Perpustakaan Nasional sebagai salah satu institusi yang mengemban tugas mulia — tidak hanya sekedar untuk membina dan meningkatkan minat baca masyarakat — seperti menemukan “mutiara” terpendam yang selama ini diidamkan. Karena itu, jargon pihak Perpustakaan Nasional “tidak hanya sekedar memberi contoh, tetapi juga harus menjadi contoh”, kendati realitasnya memang tidak segampang mengucapkan jargon yang heroik tersebut. Minimal, dari sejumlah peserta seminar tak sedikit yang tampak kecewa lantaran tidak mendapatkan sertifikat kepesertaan yang telah dijanjikan. Padahal, alasannya lantaran tertib administrasi dari petugas pencatat tidak menemukan nama peserta yang telah memastikan diri mengisi formulir administrasi.
Kerja sepele panitia penyelenggara seminar ini sungguh mengingatkan sikap dan sifat kerendahan hati — cermat dan akurat — sungguh tidak gampang untuk diwujudkan, persis seperti harapan adanya yayasan atau sejenis foundation yang bisa menopang kebutuhan hidup layak para pekerja seni, pelaku budaya, peneliti dan penulis serta kondisi dari ekonomi para dosen di Indonesia yang sungguh perlu mendapat perhatian dari perintah, seperti menitipkan gagasan mulia ini kepada Chatib Bisri yang juga hadir dan sedang viral untuk menggantikan Menteri Keuangan, lantaran mungkin karena tonjokan dollar yang membuat “knock out” si ru-piah.
Penerbit: MR














