BERAU β Puskesmas Suaran, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, memberikan klarifikasi terkait video yang beredar di media sosial dan menimbulkan persepsi adanya kelalaian pelayanan kesehatan di fasilitas tersebut pada Rabu (24/6/2026).
Kepala Puskesmas Suaran, Ns. Arief Suryanto, S.Kep., M.AP., menjelaskan bahwa video yang direkam oleh seorang warga bernama Mama Dingga, warga RT 4 Suaran yang diketahui berprofesi sebagai penampung dan pembeli buah sawit, tidak menggambarkan keseluruhan situasi pelayanan yang sedang berlangsung saat itu.
Menurut Arief, pada hari kejadian hanya terdapat tiga petugas yang bertugas di Unit Gawat Darurat (UGD), yakni dr. Lusiana sebagai dokter jaga, M. Ali sebagai perawat, dan Eka Suryaningrat sebagai bidan.
βPelayanan pada hari itu berlangsung cukup padat dan seluruh petugas tetap menjalankan tugas sesuai prosedur yang berlaku,β ujarnya dalam laporan kronologis yang disampaikan pada 24 Juni 2026.
Berdasarkan kronologi yang disampaikan pihak puskesmas, pasien pertama datang sekitar pukul 11.30 Wita. Pasien merupakan seorang anak yang mengalami muntah dan diare (muntaber) disertai kondisi lemas akibat dehidrasi. Tim medis segera memberikan terapi infus dan melakukan observasi. Saat video direkam, kondisi pasien disebut telah membaik, tidak lagi lemas, dan sedang dalam tahap persiapan pelepasan infus sebelum diperbolehkan pulang.
Selanjutnya, pada pukul 14.57 Wita, petugas menerima pasien kedua yang mengalami kecelakaan lalu lintas (KLL). Pasien mendapatkan penanganan luka dan observasi kesadaran. Petugas juga mencium aroma alkohol dari mulut pasien sehingga dilakukan pemantauan lebih lanjut. Kondisi pasien dilaporkan stabil selama menjalani perawatan.
Sementara itu, pasien ketiga datang pada pukul 16.20 Wita dengan keluhan sesak napas berat. Hasil pemeriksaan menunjukkan pasien memiliki riwayat Tuberkulosis (TB) berulang dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Petugas kemudian memberikan terapi oksigen dan nebulizer serta melakukan observasi selama kurang lebih 40 menit.
Namun karena kondisi pasien tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan, dokter memutuskan untuk merujuk pasien ke RSUD Abdul Rivai di Tanjung Redeb. Keputusan tersebut telah dijelaskan kepada pihak keluarga pasien.
Selama proses persiapan rujukan, perawat bertugas menyusun dokumen administrasi yang diperlukan, termasuk surat rujukan dan berkas pendukung lainnya. Pada saat yang bersamaan, petugas juga harus mencari pengemudi ambulans karena Puskesmas Suaran belum memiliki sopir ambulans tetap.
βKami sering harus mencari siapa yang dapat mengemudikan ambulans, baik petugas lain, warga sekitar, keluarga tenaga kesehatan, bahkan terkadang kepala puskesmas sendiri,β kata Arief.
Ketika ambulans telah berada di depan UGD, perawat masih berada di ruang administrasi untuk menyelesaikan dokumen rujukan. Pada situasi tersebut, menurut pihak puskesmas, pembuat video datang dan mempertanyakan proses pelayanan yang dianggap terlalu lama.
Meski mendapat berbagai komentar dan tekanan verbal, petugas tetap melanjutkan proses evakuasi pasien hingga akhirnya ambulans bersama tenaga kesehatan berangkat menuju RSUD Abdul Rivai pada pukul 17.45 Wita.
Setelah proses rujukan berlangsung, pembuat video kembali mendatangi UGD dan merekam kondisi ruangan yang tampak tanpa petugas. Pihak puskesmas menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena dokter telah kembali ke rumah dinas setelah memastikan seluruh pasien dalam keadaan stabil, sementara perawat sedang mendampingi pasien rujukan dan bidan berada di ruang pelayanan kebidanan untuk melaporkan perkembangan pasien.
Menurut Arief, jeda waktu singkat ketika tidak ada petugas di ruang UGD itulah yang kemudian direkam dan diunggah ke media sosial sehingga menimbulkan persepsi bahwa pelayanan kesehatan di Puskesmas Suaran tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Atas beredarnya video tersebut, pihak Puskesmas Suaran berharap mendapat dukungan dari instansi terkait untuk melakukan klarifikasi secara resmi sekaligus memulihkan nama baik tenaga kesehatan maupun institusi yang dinilai telah dirugikan oleh informasi yang dianggap tidak utuh.
βKami menyadari masih banyak keterbatasan yang kami hadapi. Namun seluruh petugas telah berupaya memberikan pelayanan terbaik sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia,β ujar Arief.
Pihak puskesmas juga berharap adanya evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan pembuat konten agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Laporan kronologis tersebut disampaikan sebagai bentuk penjelasan resmi atas peristiwa yang terjadi pada Rabu, 24 Juni 2026, di Puskesmas Suaran, Kabupaten Berau.
Jurnalis DK : MR/RED.















