JAYAPURA – Di tengah perbedaan pandangan politik dan keyakinan yang masih mewarnai Papua, tokoh gereja Dr. A.G. Socratez Yoman menyerukan pentingnya menjaga persahabatan di atas dasar kemanusiaan.
Pesan itu disampaikan Gembala Sidang Gereja Kingmi Mile 32, Abepura, Jayapura, dalam pernyataannya pada Kamis (24/7/2026).
“Kita boleh berbeda dalam pandangan ideologi dan nasionalisme antara bangsa Indonesia dan bangsa Papua Barat, tetapi kita tetap bersahabat dalam kemanusiaan,” ujar Dr. Socratez Yoman.
Ia juga menyoroti keberagaman keyakinan di tengah masyarakat. Menurutnya, perbedaan iman tidak boleh menjadi penghalang untuk hidup berdampingan.
“Kita juga boleh berbeda dalam keyakinan iman — Kristen, Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, Atheis, dan Komunis — tetapi kita tetap bersahabat dalam kemanusiaan,” tegasnya.
Pernyataan Dr. Socratez Yoman ini muncul sebagai ajakan untuk meredam polarisasi dan kekerasan atas nama perbedaan. Ia menekankan bahwa nilai kemanusiaan harus menjadi jembatan di atas segala perbedaan ideologi, kebangsaan, maupun agama.
Pesan tersebut viral di media sosial dan grup diskusi lintas iman, di tengah upaya berbagai pihak mendorong dialog damai dan rekonsiliasi di Papua.
Hingga saat ini, Dr. Socratez Yoman dikenal sebagai salah satu tokoh gereja yang vokal menyuarakan perdamaian, hak asasi manusia, dan dialog di Tanah Papua.
DW















