JAKARTA — Perjuangan panjang tengah dijalani Zoeya Lituhayu, bayi asal Kelurahan Rinding, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Zoeya harus menjalani perawatan intensif akibat atresia bilier, penyakit langka yang menyerang saluran empedu dan dapat berdampak serius terhadap fungsi hati.
Kini, Zoeya masih menunggu jadwal pelaksanaan transplantasi hati di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Di tengah penantian tersebut, kedua orang tua Zoeya terus memberikan pendampingan dan dukungan. Sang ibu bahkan telah menyatakan kesiapannya menjadi donor dengan memberikan sebagian organ hatinya untuk menyelamatkan buah hatinya.
Bagi keluarga, transplantasi hati menjadi harapan besar agar Zoeya dapat memperoleh kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Selama kurang lebih 11 bulan, Zoeya bersama kedua orang tuanya harus menetap di Jakarta untuk menjalani berbagai tahapan pemeriksaan, pengobatan, serta proses screening yang dilakukan tim medis RSCM sebagai bagian dari persiapan transplantasi.
Perjalanan tersebut tentu bukan hal mudah bagi keluarga kecil asal Berau itu.
Selain harus menghadapi kondisi kesehatan anak semata wayang mereka, kedua orang tua Zoeya juga harus memikirkan kebutuhan hidup dan tempat tinggal selama berada di Jakarta.
Dalam perjalanan pengobatan tersebut, keluarga Zoeya bahkan sempat tinggal di rumah singgah untuk bertahan selama menjalani pemeriksaan dan perawatan.
Namun, keterbatasan kemampuan ekonomi membuat persoalan biaya hidup menjadi tantangan tersendiri. Kondisi tersebut bahkan sempat membuat Zoeya dan kedua orang tuanya kembali ke Berau.
Persoalan kembali muncul ketika keluarga harus kembali ke Jakarta untuk melanjutkan tahapan pemeriksaan dan menunggu jadwal transplantasi. Biaya tempat tinggal selama masa penantian menjadi salah satu beban yang cukup berat.
Dalam kondisi tersebut, kedua orang tua Zoeya menyampaikan persoalan yang mereka hadapi kepada jajaran redaksi Derap Kalimantan. Mereka berharap ada jalan keluar agar tetap dapat berada di Jakarta hingga seluruh tahapan medis Zoeya selesai.
Kisah perjuangan keluarga tersebut kemudian mendapat perhatian dari jajaran redaksi dan para jurnalis Derap Kalimantan. Persoalan kemanusiaan yang dihadapi keluarga Zoeya dibahas untuk mencari langkah yang dapat membantu mereka bertahan selama menjalani proses pengobatan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah memfasilitasi permohonan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, khususnya Wakil Gubernur Kaltim H. Seno Aji, agar keluarga Zoeya memperoleh tempat tinggal selama berada di Jakarta.
Permohonan tersebut mendapat respons positif.
Melalui kebijakan tersebut, Zoeya bersama kedua orang tuanya diberikan kesempatan menempati Mess Perwakilan Kaltim di Jakarta selama menjalani proses pengobatan dan menunggu pelaksanaan transplantasi, termasuk masa pemulihan setelah tindakan medis.
Bantuan tempat tinggal tersebut menjadi angin segar bagi keluarga Zoeya. Setidaknya, mereka tidak lagi harus terlalu memikirkan persoalan tempat tinggal selama berada di Jakarta dan dapat lebih fokus mendampingi Zoeya menjalani rangkaian proses medis.
Di balik perjuangan panjang tersebut, terdapat pengorbanan seorang ibu yang tidak ingin menyerah terhadap kondisi yang dialami buah hatinya.
Sang ibu telah menyatakan kesediaannya menjadi donor bagi Zoeya. Sebagian organ hati sang ibu nantinya akan ditransplantasikan kepada anaknya apabila seluruh proses pemeriksaan dan persyaratan medis dinyatakan memenuhi ketentuan oleh tim dokter.
Kesediaan tersebut menjadi gambaran kasih sayang seorang ibu yang rela memberikan sebagian dari dirinya demi kehidupan anak yang dicintainya.
Bagi keluarga Zoeya, transplantasi hati bukan sekadar tindakan medis. Operasi tersebut merupakan harapan untuk memberikan kesempatan hidup yang lebih baik bagi buah hati mereka.
Selama hampir satu tahun berada di Jakarta, kedua orang tua Zoeya terus mendampingi anaknya melewati berbagai tahapan pemeriksaan dan screening. Mereka juga harus menunggu keputusan serta jadwal tindakan dari tim medis RSCM.
Kini, keluarga tersebut kembali berada pada fase penantian.
Menunggu Kepastian Biaya dan Jadwal Operasi
Keluarga Zoeya saat ini masih menunggu penyelesaian biaya administrasi yang menjadi salah satu bagian penting sebelum tindakan medis dilaksanakan. Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Berau segera mengambil kebijakan untuk membantu menyelesaikan kebutuhan administrasi tersebut.
Berdasarkan rencana yang disampaikan keluarga, kedua orang tua Zoeya dijadwalkan mengikuti rapat besar pada 15 September 2026. Sementara tindakan operasi transplantasi hati direncanakan pada 20 September 2026, dengan tetap menyesuaikan hasil pemeriksaan dan keputusan tim medis RSCM.
Karena itu, keluarga berharap seluruh kebutuhan administrasi dan persiapan medis dapat segera diselesaikan sehingga rencana operasi tidak mengalami kendala.
Doa dan harapan terus dipanjatkan agar seluruh tahapan medis berjalan lancar, sang ibu dinyatakan layak sebagai donor, dan Zoeya dapat menjalani transplantasi hati dengan baik.
Perhatian Pemerintah Kabupaten Berau serta dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang keluarga tersebut.
Bagi keluarga Zoeya, dukungan itu bukan hanya mengenai bantuan fasilitas. Lebih dari itu, dukungan tersebut menjadi penguat bahwa mereka tidak berjalan sendirian dalam perjuangan menyelamatkan kehidupan seorang anak.
Dari Berau, keluarga Zoeya datang ke Jakarta membawa satu harapan: memberikan kesempatan hidup yang lebih baik bagi buah hati mereka.
Kini, mereka hanya menunggu satu kepastian.
Hari ketika Zoeya menjalani transplantasi hati dan sang ibu memberikan sebagian dari dirinya untuk kehidupan anak yang dicintainya.
Reporter DK.















