Jakarta, 27 April 2025 — Pemerhati ekonomi global dan pakar hukum internasional, Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, SH, MH, mengingatkan potensi serius terjadinya perang nuklir di tahun 2025. Ia mengimbau Presiden RI Jenderal Haji Prabowo Subianto untuk meningkatkan kewaspadaan demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam keterangannya kepada media, Prof. Sutan menyatakan bahwa peningkatan ketegangan global, khususnya dampak konflik Palestina, berpotensi memicu krisis berskala besar, termasuk perang nuklir. Ia menyoroti bahwa negara-negara yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam konflik membutuhkan kekuatan ekonomi dan dukungan kuat dari masyarakatnya untuk bertahan.
Amerika Serikat, menurutnya, menerapkan kebijakan pajak tinggi terhadap sejumlah negara importir dunia guna memperbaiki perekonomian domestik yang kian terpuruk. Kebijakan ini, didorong oleh beban biaya perang mendukung Israel di Palestina, membuat ketidakstabilan ekonomi global semakin parah. “Amerika mengambil sikap brutal dengan menaikkan pajak, sementara angka pengangguran dan pelemahan industrinya meningkat,” ujar Prof. Sutan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa saat ini dunia sedang menghadapi tiga bentuk perang besar: perang politik, perang ekonomi, dan perang kedaulatan. Ketiga bentuk ini, kata dia, tengah memicu ketegangan antarnegara, dan berpotensi menyeret dunia ke dalam konflik nuklir.
Prof. Sutan menyoroti bahwa Israel, dengan dukungan Amerika dan NATO, telah melanggar hukum internasional melalui tindakan genosida terhadap Palestina. Ia menilai bahwa Israel tengah berusaha menunjukkan diri sebagai kekuatan militer unggul di dunia.
Selain itu, ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran, China, Yaman, dan Rusia semakin memperparah situasi. Amerika dinilai terus memasok peralatan perang ke Israel, tanpa mengindahkan seruan PBB untuk menghentikan konflik. Pada saat bersamaan, Amerika merasa terganggu oleh dominasi industri China dan negara berkembang lainnya di pasar dunia.
Prof. Sutan juga menyinggung kondisi ekonomi Indonesia. Menurutnya, tekanan politik dan ekonomi yang berat di dalam negeri diperparah oleh kegagalan strategi pembangunan sektor pertanian, perdagangan, hukum, militer, dan geopolitik dalam satu dekade terakhir. Pertumbuhan lapangan kerja dinilai tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk, sementara teknologi industri dan pertanian Indonesia tertinggal dari negara lain.
Merujuk data IMF per April 2024, tingkat pengangguran di Indonesia tercatat sebesar 5,2 persen, lebih tinggi dibanding Vietnam (2,1 persen) dan Singapura (1,9 persen), namun sedikit lebih rendah dibanding Filipina (5,1 persen). Ia memperingatkan bahwa penutupan sejumlah pabrik di Indonesia sepanjang awal 2025 diprediksi akan memperburuk angka pengangguran.
Selain itu, kebijakan pajak tinggi dari Amerika terhadap produk Indonesia memberikan pukulan besar terhadap industri ekspor nasional, memperburuk situasi ekonomi.
Melihat dinamika ini, Prof. Sutan meminta Presiden Prabowo untuk berani mengambil langkah cepat dan strategis, mengutamakan keselamatan bangsa di tengah ancaman perang global. Ia menekankan pentingnya membangun kekuatan pertahanan nasional, memperkuat sektor pertanian, perikanan, UMKM, serta mempererat hubungan Presiden dengan rakyat, terutama kaum muda.
“Masa depan Indonesia kini berada di tangan Presiden RI,” tegas Prof. Dr. KH Sutan Nasomal.
Narasumber:
Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, SH, MH
Pakar Hukum Internasional, Presiden Partai Oposisi Merdeka
Kontak: 0811-8419-260















