Tanjung Selor, 4 Agustus 2025 – Suasana damai namun penuh semangat menyelimuti Kantor Gubernur dan DPRD Provinsi Kalimantan Utara ketika Pasukan Merah Serdaduuq Adat Regatn Tatau bersama 29 organisasi masyarakat (ormas), termasuk Lembaga Adat Dayak Bulungan, menggelar aksi damai menolak program transmigrasi. Aksi ini berlangsung dengan tertib dan disertai prosesi ritual adat Dayak sebagai simbol penegasan identitas serta tuntutan mereka.
Dipimpin langsung oleh Patih Wahid, Ketua DPD Pasukan Merah SART Kalimantan Utara, para peserta menyuarakan aspirasi agar pemerintah menghentikan program transmigrasi yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat adat. Mereka menuntut prioritas bagi masyarakat lokal, khususnya masyarakat adat, dalam hal akses lapangan pekerjaan, pembangunan infrastruktur jalan, serta keterlibatan dalam pembangunan daerah secara keseluruhan.
“Kami tidak menolak pembangunan, tapi pembangunan harus berkeadilan. Warga lokal jangan hanya jadi penonton di tanah sendiri,” ujar Patih Wahid kepada awak media saat ditemui di lokasi aksi.
Aksi yang berlangsung sejak pagi hari itu diwarnai dengan prosesi adat penyembelihan B2 (babi) sebagai bagian dari ritual Dayak yang sarat makna spiritual. Di akhir aksi, dilakukan pembakaran orang-orangan, yang menurut tokoh adat merupakan simbol penolakan terhadap kebijakan yang dianggap menindas masyarakat adat.
Dalam momen bersejarah ini, perwakilan Pemerintah Provinsi, termasuk Wakil Gubernur Kalimantan Utara dan anggota DPRD Provinsi, turut hadir dan menandatangani dokumen pernyataan sikap sebagai bentuk komitmen untuk memperhatikan tuntutan masyarakat. Penandatanganan ini disaksikan langsung oleh awak media, tokoh adat, para pimpinan ormas, serta staf pemerintahan setempat.
Aksi damai ini menjadi bentuk perlawanan kolektif masyarakat adat terhadap kebijakan yang dianggap mengancam eksistensi dan hak-hak masyarakat lokal. Mereka berharap, melalui aksi dan dialog ini, pemerintah benar-benar mendengarkan suara rakyat akar rumput yang telah lama menjaga dan hidup berdampingan dengan tanah Kalimantan.***
Jurnalis DK Kaltara : Ahim















