Penulis:
_Hendri Zein – Alumni HMI, Peserta Jalan Sehat 60 Tahun Kahmi Banten_
Serang, Banten – Minggu pagi, 18 Oktober 2026, Alun-Alun Kota Serang menjadi saksi berkumpulnya ratusan alumni Himpunan Mahasiswa Islam yang kini berhimpun dalam Korps Alumni HMI (Kahmi) Banten. Dengan kaus putih seragam bertuliskan Jalan Sehat, kami berjalan bersama. Bukan sekadar berjalan, tetapi sedang merajut kembali sebuah ikatan yang sudah berusia 60 tahun.
Kahmi tahun ini genap berusia 60 tahun. Usia yang tidak muda. Jika dihitung sejak kelahirannya pada 17 September 1966, Kahmi telah melewati berbagai fase sejarah bangsa. Dari Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga era digital hari ini. Tema milad tahun ini, “Kahmi 60 Tahun Mengabdi untuk Kemaslahatan Bangsa”, bukan sekadar slogan. Itu adalah pengingat akan jati diri.
Saya hadir sebagai salah satu peserta jalan sehat itu. Di samping saya ada senior yang sudah sepuh, ada juga adik-adik alumni muda yang baru menyelesaikan studi. Kami berfoto bersama di depan backdrop biru bertuliskan Jalan Sehat Kahmi Banten, dengan logo Pemerintah Provinsi Banten dan logo 60 Tahun Kahmi. Foto itu sederhana, tetapi maknanya dalam.
Apa makna jalan sehat bagi Kahmi?
Pertama, jalan sehat adalah simbol kesehatan organisasi. Organisasi sebesar Kahmi, yang anggotanya tersebar di seluruh penjuru Indonesia dan mengisi berbagai posisi strategis, harus tetap sehat. Sehat secara fisik, sehat secara pemikiran, dan sehat secara moral. Di tengah polarisasi dan disrupsi informasi, Kahmi harus menjadi penjernih, bukan bagian dari keruh.
Kedua, jalan sehat adalah ruang silaturahmi. Kekuatan Kahmi sesungguhnya bukan pada struktur, melainkan pada silaturahmi. Kekuatan Kahmi adalah ketika seorang alumni di birokrasi bertemu dengan alumni di kampus, alumni di pesantren bertemu dengan alumni di dunia usaha, lalu mereka berbicara tentang Banten, tentang umat, tentang bangsa. Jalan sehat kemarin adalah laboratorium silaturahmi itu. Kami saling menyapa, saling menguatkan, saling menitipkan harapan.
Dari Banten untuk Indonesia, bukan sekadar jargon. Banten adalah provinsi yang strategis. Dekat dengan ibu kota, memiliki kawasan industri, memiliki potensi pertanian dan maritim, serta memiliki akar keislaman yang kuat. Namun, Banten juga masih menghadapi pekerjaan rumah besar: kemiskinan, pengangguran, ketimpangan akses pendidikan, dan lemahnya ekonomi umat.
Di sinilah relevansi 60 tahun Kahmi diuji. Apa kontribusi nyata Kahmi untuk Banten?
Selama ini, Kahmi dikenal sebagai lumbung kader. Banyak alumni HMI yang menjadi pejabat, pengusaha, akademisi, dan tokoh masyarakat. Namun, di usia 60 tahun ini, kita tidak boleh berhenti pada nostalgia kaderisasi. Kita harus melompat pada agenda yang lebih konkret: kebangkitan ekonomi umat.
Kebangkitan ekonomi umat yang saya maksud bukan ekonomi eksklusif, melainkan ekonomi yang inklusif. Ekonomi yang memberdayakan UMKM binaan alumni, ekonomi yang menghubungkan pesantren dengan pasar digital, ekonomi yang mendorong lahirnya wirausahawan muda dari kalangan alumni HMI dan masyarakat Banten secara umum.
Kahmi Banten memiliki modal sosial yang luar biasa. Jaringan Majelis Daerah di delapan kabupaten/kota, jaringan Forhati yang kuat, serta kedekatan dengan Pemerintah Provinsi Banten. Modal ini jika dikelola dengan baik, bisa menjadi mesin penggerak ekonomi. Bayangkan jika setiap MD Kahmi memiliki inkubator UMKM, bayangkan jika setiap alumni pengusaha menjadi mentor bagi 10 pengusaha muda Banten.
Jalan sehat kemarin mengajarkan satu hal: bergerak bersama itu lebih ringan. Satu orang berjalan akan cepat lelah, tetapi ratusan orang berjalan bersama akan saling menyemangati hingga garis finis.
Tantangan Kahmi ke depan bukan lagi soal eksistensi, tetapi soal relevansi. Apakah Kahmi masih relevan bagi generasi Z dan milenial? Apakah Kahmi masih relevan bagi masyarakat Banten yang membutuhkan solusi konkret, bukan sekadar diskusi? Jawabannya tergantung pada kita.
60 tahun pengabdian untuk umat dan bangsa harus diterjemahkan dalam bahasa yang membumi. Di Banten, bahasa itu adalah: bagaimana Kahmi membantu menurunkan angka kemiskinan? Bagaimana Kahmi membantu meningkatkan IPM Banten? Bagaimana Kahmi membantu menjadikan Banten sebagai provinsi yang maju, berdaya saing, dan berakhlak?
Saya percaya, jawaban itu dimulai dari langkah kecil seperti jalan sehat. Langkah kecil yang sehat, yang konsisten, yang dilakukan bersama-sama.
Dari jalan sehat, kita menuju sehatnya organisasi. Dari sehatnya organisasi, kita menuju sehatnya ekonomi umat. Dari Banten, kita memberikan teladan untuk Indonesia.
Dirgahayu 60 Tahun Kahmi. Terus mengabdi untuk kemaslahatan bangsa. (DW)















