Berau – Punggawa Lani Bin Saini, tokoh adat sekaligus anggota Laskar Adat Pulau Besing, menegaskan kesetiaan dan komitmennya dalam menjaga marwah serta kearifan lokal Kesultanan di Bumi Batiwakkal, Berau. Hal ini disampaikan langsung kepada wartawan Derap Kalimantan saat ditemui di Pulau Besing.
Menurut Lani, keberadaan dua Kesultanan di Berau, yakni Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung, adalah simbol persaudaraan, persatuan, dan kearifan lokal yang harus tetap dilestarikan. Kedua Kesultanan tersebut masih memiliki ikatan darah dan hingga kini hidup rukun berdampingan tanpa konflik.
“Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Itulah prinsip yang selalu kami pegang. Saya sebagai Punggawa siap berada di garis terdepan bila marwah Kesultanan diinjak-injak atau dihina,” tegas Lani.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak manapun yang mencoba memecah belah kedua Kesultanan yang menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas masyarakat Berau. “Kami sangat murka bila ada oknum yang berniat memecah belah persatuan ini. Kesultanan adalah warisan leluhur yang harus kita jaga bersama,” tambahnya dengan lantang.
Lani menegaskan, menjaga kearifan lokal bukan sekadar mempertahankan adat istiadat, tetapi juga wujud penghormatan terhadap nilai-nilai persaudaraan dan kebersamaan yang diwariskan para leluhur.
Dengan semangat itu, Laskar Adat Pulau Besing berkomitmen untuk terus mengawal, menjaga, dan melestarikan marwah Kesultanan agar tetap berdiri kokoh di tengah arus perubahan zaman.***
Tim DK















