Tanjung Selor, DerapKalimantan.com — Senin, 20/10/2025, Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-235 Kota Tanjung Selor dan HUT ke-65 Kabupaten Bulungan, sejumlah masyarakat keluarga adat Tidung menyampaikan kekecewaan mereka terhadap pemerintah daerah. Pasalnya, empat kali surat permohonan silaturahmi yang mereka kirimkan kepada Bupati Bulungan tak kunjung mendapat respons.
Kekecewaan itu diungkapkan oleh Samsudin bin Bustani Abu Bakar., tokoh muda adat Tidung yang akrab disapa Syam atau Sidung, di sela-sela pawai budaya perayaan HUT Tanjung Selor dan Bulungan pada Sabtu, 18 Oktober 2025.
“Kami hanya ingin bersilaturahmi dan menyampaikan aspirasi masyarakat adat Tidung. Tapi sudah tiga, bahkan empat kali kami bersurat secara resmi, tidak ada jawaban atau kabar balasan,” ungkap Syamsudin kepada DerapKalimantan.com dengan logat Tidung yang khas.
Menurutnya, masyarakat adat Tidung merasa seolah tidak dianggap oleh pemerintah daerah.
“Mungkin kami ini bukan siapa-siapa, hanya kelompok kecil yang melengkapi keberagaman. Kasihan orang tua kami yang berharap bisa bertemu pemimpinnya, tapi sampai sekarang belum terwujud,” ujarnya dengan nada kecewa.
Sebagai suku asli yang telah hidup ratusan tahun di wilayah Bulungan, masyarakat Tidung selama ini dikenal menjunjung tinggi nilai kearifan lokal dan menjaga kerukunan antarwarga. Prinsip “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menjadi pedoman mereka dalam hidup berdampingan dengan berbagai etnis di Tanjung Selor.
Peringatan 235 tahun Kota Tanjung Selor menjadi refleksi perjalanan panjang sejarah daerah yang tak lepas dari peran masyarakat adat Tidung sebagai bagian penting dari identitas dan kebudayaan Bulungan. Namun, hingga kini, mereka berharap pemerintah daerah dapat lebih terbuka dan memberi ruang bagi dialog serta silaturahmi untuk memperkuat hubungan antara masyarakat adat dan pemangku kebijakan.
Tim Liputan DerapKalimantan.com
Editor: Marihot















