Banten, 22 Juni 2026,
Penangkapan terhadap penuding ijazah palsu mantan Presiden Indonesia, Joko Widodo, yaitu Roy Suryo dan dokter Tifauzia Tyassuma semacam “tes ombak” bagi semua pihak yang cukup mengisyaratkan bahwa pengaruh Joko Widodo sebagai pihak yang dituding menggunakan ijazah palsu masih cukup kuat pengaruhnya. Berikutnya adalah bisa menakar kekuatan pendukung dan pembela yang ada dibelakang Roy Suryo dan Tifa.
Namun yang pasti, penangkapan dan upaya untuk menahan kedua penuding ijazah palsu itu sangat merugikan citra dari pihak Kepolisian yang sudah mereda menjadi sorotan, setidaknya terkait dengan Reformasi Polri yang dianggap gagal, namun telah berhasil membangun simpati dari masyarakat melalui program menanam jagung untuk ikut mensukseskan swasembada pangan yang hendak dicapai pemerintah.
Kecuali itu, peristiwa penangkapan Roy Suryo dan Tifa — meski kemudian tidak ditahan oleh pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan — seperti pemberitaan yang juga viral pada hari Senin, 22 Juni 2026 yang lumayan massif termuat dalam media sosial, semua ini jelas menunjukkan antusias warga masyarakat mengikuti dan mencermati pemberitaan tersebut, sehingga jadi terkesan menjadi semacam upaya pengalihan perhatian dari maraknya aksi dan unjuk rasa mahasiswa yang terus berkobar di berbagai daerah dan pusat meminta perhatian pemerintah untuk mendengarkan aspirasi rakyat yang tersumbat, lantaran tidak lagi mereka di Senayan, kendati tetap mengklaim sebagai wakil rakyat.
Realitas yang terus menggelegak dalam masyarakat ini akan sangat bijak disikapi oleh Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menentukan langkah yang lebih baik untuk terus melakukan upaya pembersihan Kabinet Merah Putih yang sekedar menjadi penumpang — atau bahkan menjadi beban pelaksanaan program yang sudah cukup baik untuk diterima dan didukung oleh masyarakat, asalkan rincian pelaksanaan program, proses pelaksanaan hingga upaya untuk melakukan pengawasan serta evaluasi yang lebih obyektif dapat terus dilakukan dengan selalu mendengar suara dan keluhan rakyat yang harus dapat menikmatinya. Okeh karena itu, jerit dan keluh kesah rakyat tentang beban biaya hidup yang semakin berat dapat dijadikan acuan untuk memperoleh dukungan tanpa reserve dari rakyat. Mulai dari upaya untuk mengawasi pemberian subsidi hingga berbagai bantuan yang dapat meringankan beban hidup rakyat, agaknya sudah lebih dari cukup bila dapat terus berjalan efektif dan efisien untuk bisa dinikmati oleh rakyat. Katena itu, wacana untuk melakukan pemadaman listrik secara bergilir guna menekan biaya operasional harus diupayakan tidak sampai terjadi, lantaran dampak buruknya cukup besar pengaruhnya untuk menjaga tata kehidupan dan aktivitas bagi warga masyarakat. Apalagi sekarang sudah cukup banyak kendaraan listrik yang menjadi andalan — untuk penghematan bagi rakyat — dalam upaya menekan biaya ekonomi dan ketergantungan pada bahan bakar minyak.
Berbagai upaya yang sudah semakin jelas dan terang untuk memperbaiki tata kelola negeri kita ini yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pasti akan mendapat dukungan sepenuh hati, utamanya untuk membersihkan penumpang-penumpang titipan yang tidak tidak kredibel serta kapasitas yang mumpuni, sehingga tidak menjadi batu sandung yang menghalangi untuk membenahi negeri ini. Sebab aksentuasi dari teriakan revolusi yang digemakan oleh mahasiswa — sebagai representasi dari suara rakyat — adalah melakukan perombakan total formasi kabinet, pengelola lembaga dan berbagai badan pendukung setengah hati bagi pemerintah. Dan mereka bukan cuma akan menjadi penghambat, tetapi akan menjadi pelaku pengkhianat bagi negara dan bangsa Indonesia.
Tim DK.















