BERAU — Adat dan budaya dinilai bukan sekadar warisan leluhur, tetapi dapat menjadi modal penting dalam mendorong pembangunan kampung sekaligus memperkuat identitas masyarakat. Hal tersebut ditegaskan Ketua Lembaga Adat Kampung Muara Lesan, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Dayang Rasmiaty Bachrun R.
Dayang Rasmiaty menegaskan, pembangunan di tingkat kampung harus tetap berpijak pada adat istiadat dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, kemajuan suatu wilayah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan karakter serta identitas budayanya.
“Adat dan budaya harus menjadi fondasi utama dalam gerak pembangunan suatu daerah, termasuk di kampung. Dengan begitu, kemajuan dapat dicapai tanpa kehilangan karakter dan identitas kultur budaya masyarakat,” ujarnya kepada Derap Kalimantan di sela-sela kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampung Muara Lesan, Selasa (25/8/2026).
Ia mengatakan, pelestarian adat bukan hanya menjadi tanggung jawab masyarakat asli, melainkan harus menjadi komitmen bersama seluruh warga kampung, termasuk masyarakat pendatang yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial di Muara Lesan.
Menurutnya, keberagaman masyarakat justru dapat menjadi kekuatan dalam membangun kampung. Adat dan budaya yang hidup di tengah masyarakat perlu dijunjung tinggi serta diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Potensi Wisata Pedalaman Belum Tersentuh
Dayang Rasmiaty juga menyoroti potensi pariwisata berbasis adat dan budaya di wilayah pedalaman Kabupaten Berau, khususnya Kecamatan Kelay, yang dinilainya belum mendapatkan perhatian secara maksimal.
Ia berharap pembangunan sektor pariwisata tidak hanya berorientasi pada kawasan pesisir dan destinasi yang selama ini sudah dikenal masyarakat luas. Menurutnya, wilayah pedalaman memiliki kekayaan alam dan budaya yang tidak kalah menarik untuk dikembangkan.
“Pembangunan pariwisata jangan hanya tertuju pada daerah-daerah tertentu, misalnya kawasan pesisir. Potensi wisata adat dan budaya yang ada di pedalaman masih banyak dan belum tersentuh,” katanya.
Salah satu potensi tersebut, lanjutnya, berada di kawasan alur sungai yang memiliki hamparan batu koral atau yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai pulau-pulau Kersik.
Kawasan tersebut dinilai memiliki daya tarik tersendiri untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam dan budaya. Wisatawan nantinya tidak hanya dapat menikmati panorama alam, tetapi juga mengenal kehidupan serta tradisi masyarakat setempat.
Salah satu tradisi yang masih dikenal masyarakat Muara Lesan adalah kegiatan pesta ikan naik raja yang biasanya berlangsung pada musim kemarau tertentu. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut Dayang Rasmiaty, kekayaan alam yang berpadu dengan tradisi masyarakat merupakan potensi besar apabila dikelola secara baik, berkelanjutan, dan tetap menghormati nilai-nilai adat.
“Budaya seperti ini sudah diterapkan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Muara Lesan. Karena itu, harus kita rawat dan jangan sampai hilang,” tegasnya.
Menghidupkan Kembali Kampung Muara Lesan Lawas
Selain mendorong pelestarian adat dan pengembangan wisata berbasis budaya, Dayang Rasmiaty juga mengungkapkan rencana untuk kembali menghidupkan kawasan Kampung Muara Lesan Lawas.
Ia menjelaskan, Muara Lesan memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kampung tua di pedalaman Kelay. Dahulu, pusat pemerintahan kampung berada di kawasan hulu yang berjarak sekitar 45 menit perjalanan dari lokasi Kampung Muara Lesan saat ini.
Kawasan yang dikenal masyarakat sebagai Muara Lesan Lawas tersebut, kata dia, menyimpan banyak sejarah dan kenangan, terutama bagi para orang tua yang pernah menjalani kehidupan di kawasan tersebut.
“Kampung Muara Lesan memiliki sejarah sebagai kampung tua di pedalaman Kelay. Pusat pemerintahan dahulu berada di hulu, sekitar 45 menit perjalanan dari kampung sekarang. Di sana banyak menyimpan kenangan, terutama bagi orang-orang tua kami,” ungkapnya.
Karena itu, dirinya berkomitmen untuk mendorong kembali pengenalan dan pemanfaatan kawasan tersebut, baik sebagai bagian dari sejarah kampung maupun sebagai potensi wisata budaya.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menghubungkan sejarah, adat, budaya, dan potensi alam dalam satu konsep pembangunan kampung yang berkelanjutan.
Dayang Rasmiaty menilai, jika potensi tersebut dikembangkan dengan melibatkan masyarakat adat dan warga kampung, maka pembangunan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi sekaligus menjaga warisan leluhur.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian dan dukungan terhadap upaya masyarakat dalam menjaga adat, mengembangkan wisata budaya, serta menghidupkan kembali kawasan bersejarah Muara Lesan Lawas.
“Yang paling penting, pembangunan harus tetap menghargai adat dan budaya. Kemajuan kampung boleh berjalan, tetapi jati diri dan warisan leluhur jangan sampai ditinggalkan,” pungkasnya.
Jurnalis DK: Marihot















