Berau, Derap Kalimantan.com – Kabupaten Berau kini menghadapi bencana banjir bahkan ancaman banjir bandang kini menghantui masyarakat Berau, banjir yang semakin meluas dan mengkhawatirkan. Beberapa wilayah yang sebelumnya dianggap aman dari genangan air kini turut terdampak, termasuk kawasan Jalan Poros Rinding yang mulai terendam air hingga mendekati pemukiman warga. (31/3).
Banjir besar ini disebabkan oleh meluapnya Sungai Kelay, yang berdampak pada banyak desa di sekitarnya. Sejumlah pihak menilai bahwa bencana ini bukan hanya akibat faktor alam, tetapi juga dipicu oleh lemahnya kebijakan pemerintah daerah dalam mengawasi aktivitas pertambangan, baik yang legal maupun ilegal. Kurangnya pengawasan terhadap sektor ini membuat banyak kawasan hutan mengalami deforestasi tanpa memperhatikan dampak lingkungan jangka panjang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Berau dinilai tidak tegas dalam melakukan penindakan terhadap pelanggaran lingkungan. Akibatnya, banyak kawasan hutan yang seharusnya berfungsi sebagai resapan air kini gundul dan tidak mampu menahan curah hujan tinggi, yang berujung pada banjir di berbagai titik.
Selain itu, muncul dugaan bahwa banjir kali ini diperparah oleh jebolnya tanggul bekas tambang. Jika benar, hal ini menunjukkan betapa lemahnya pengawasan terhadap perusahaan tambang yang beroperasi di Berau. Masyarakat khawatir kondisi ini akan semakin parah jika tidak ada tindakan konkret dari pemerintah daerah untuk menekan eksploitasi lingkungan yang tidak bertanggung jawab.
Warga Berau kini menuntut kebijakan yang lebih tegas dalam menyelamatkan hutan dan ekosistem yang tersisa. Mereka berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk memperketat pengawasan terhadap aktivitas pertambangan serta menindak tegas pelaku perusakan lingkungan. Tanpa langkah cepat dan efektif, bencana serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan mengancam keselamatan masyarakat Berau di masa mendatang.(**).
Tim Derap Kalimantan















