Jakarta — Pakar Hukum Internasional, Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH, menghimbau Presiden Republik Indonesia, Jenderal (Purn.) H. Prabowo Subianto, untuk tidak tinggal diam terhadap situasi ekonomi nasional yang semakin memburuk. Ia menyebutkan bahwa fenomena maraknya judi online telah mencapai “lampu merah” dan membawa dampak serius terhadap ekonomi rakyat dan negara.
Menurut Prof. Sutan, hukum saat ini tampak kalah melawan praktik perjudian online yang kian merajalela. Ia mempertanyakan kinerja Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta aparat penegak hukum yang dinilainya belum efektif dalam memberantas situs-situs judi online. “Jangan sampai ada lagi cerita bahwa oknum penegak hukum dan Komdigi melindungi pelaku judi online hanya karena menerima setoran,” tegasnya.
Prof. Sutan mengungkapkan bahwa ribuan triliun rupiah telah tersedot ke luar negeri melalui transaksi judi online. Akibatnya, daya beli masyarakat merosot tajam, memperparah tingkat pengangguran, dan memukul berbagai sektor usaha dari kecil hingga besar.
“Pedagang warung, pedagang motor dan mobil bekas, hingga pedagang elektronik mengeluhkan sepinya pasar. Modal usaha habis, banyak yang terpaksa berhutang untuk bertahan,” paparnya. Ia menyoroti bahwa mahalnya dolar AS — yang saat ini menembus angka Rp17.000 — juga memperberat biaya impor barang, memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, dan menekan sektor konsumsi masyarakat.
Prof. Sutan menilai program ketahanan pangan dan pembangunan yang digembar-gemborkan pemerintah hanya sebatas wacana, tidak terbukti nyata di lapangan. Ia juga mengkritik para kepala daerah yang lebih sibuk dengan pencitraan di media sosial ketimbang mengatasi persoalan ekonomi rakyat.
Ia mengingatkan bahwa tekanan perang dagang antara China dan Amerika Serikat yang berlangsung selama tujuh tahun terakhir mestinya mendorong pemerintah untuk lebih agresif melindungi ekonomi nasional. “Pemerintah harus membuka peluang investasi dari negara-negara maju di Asia, Eropa, maupun Rusia, terutama dalam sektor pariwisata dan industri manufaktur,” ujarnya.
Melihat situasi ini, Prof. Sutan menyatakan keyakinannya bahwa Presiden Prabowo memiliki kapasitas untuk memulihkan dan membenahi ekonomi nasional. Namun ia menegaskan, seluruh jajaran pemerintahan harus bekerja serius dan jangan memancing kemarahan rakyat dengan kebijakan yang semakin membebani.
“Rakyat hari ini kesulitan makan, ojek online pun sepi. Di Jakarta saja, pendapatan pengemudi ojek hanya sekitar Rp50.000 per hari, bahkan lebih parah di daerah. Ini potret nyata rakyat yang sedang menangis,” tuturnya.
Sebagai penutup, Prof. Sutan mengingatkan bahwa rakyat tidak boleh lagi menjadi korban politik praktis dan keserakahan elit. Ia mengibaratkan kondisi saat ini seperti “NKRI tenggelam” akibat kerakusan para pejabat korup dalam satu dekade terakhir.
“Rakyat sudah bisa membaca. Mereka tidak bodoh. Para tikus berdasi yang korupsi harus disingkirkan demi menyelamatkan Indonesia,” pungkasnya. (**).
Narasumber: Prof Sutan Nasomal















