Berau, DerapKalimantan.com – Kekecewaan mendalam diungkapkan oleh Datu Surya, mantan anggota tim sukses (timses) pasangan Punggawa Sanggam, dalam sebuah perbincangan hangat di warung kopi Kota Tanjung Redeb, Jumat pagi (31/5/2025). Ia mengaku merasa dilupakan setelah pasangan calon yang mereka dukung berhasil memenangkan kontestasi politik di Pilkada Kabupaten Berau.
Dalam pertemuan santai tersebut, Datu Surya — yang juga dikenal sebagai kerabat dari Kesultanan Sambaliung — menyampaikan perasaan kecewa dan terluka karena tidak adanya apresiasi atau komunikasi lanjutan dari pihak yang kini telah duduk di kursi kekuasaan. “Kami berjuang siang malam. Tapi setelah menang, kami seolah tak dianggap. Ibarat pepatah, habis manis sepah dibuang,” ujarnya lirih sambil menyesap kopi panas.
Datu Surya mengaku bahwa keterlibatannya dalam tim sukses tidak hanya atas nama pribadi, tetapi juga membawa tanggung jawab moral sebagai bagian dari institusi budaya yang dihormati di Berau. Ia bersama sejumlah relawan lainnya berkontribusi besar dalam strategi pemenangan, kampanye lapangan, hingga menjaga solidaritas basis pemilih.
Namun, setelah euforia kemenangan mereda, Datu merasa tidak ada komunikasi, penghargaan, atau bentuk pengakuan terhadap perjuangan para relawan. “Bukan soal materi atau jabatan, tapi tentang penghargaan dan nilai kebersamaan yang seharusnya tetap dijaga,” lanjutnya.
Ia menyampaikan bahwa kekecewaan ini bukan hanya dirasakannya seorang diri, tetapi juga mewakili perasaan kolektif dari banyak tim relawan yang turut mengorbankan waktu, tenaga, dan sumber daya demi kesuksesan pasangan Punggawa Sanggam. Tidak sedikit dari mereka kini merasa seperti telah dikhianati.
Ketika ditanya mengapa baru sekarang mengungkapkan isi hatinya ke media, Datu Surya menjawab dengan tenang bahwa langkah ini diambil karena rasa cinta dan harapan besar terhadap pemimpin yang dulu mereka perjuangkan. “Sebenarnya tidak ingin saya ungkapkan ke media, tapi karena rasa sayang dan harapan terhadap kepemimpinan ini, saya merasa ini perlu disuarakan,” ungkapnya.
Menurut Datu, komunikasi adalah fondasi utama dalam menjaga kepercayaan politik. Ia berharap adanya perbaikan pola interaksi antara pemimpin terpilih dan para pendukungnya, sehingga tidak terjadi jurang yang dalam antara kekuasaan dan rakyat yang pernah mendukungnya.
Keluhan ini menjadi catatan penting dalam dinamika politik daerah, di mana tim sukses kerap menjadi tulang punggung kemenangan, namun sering kali tidak mendapat ruang dalam fase pasca-pilkada. Datu Surya berharap suara-suara seperti dirinya bisa menjadi pengingat bagi para pemimpin agar tidak abai terhadap loyalitas dan jasa relawan.
“Semoga keluh kesah ini didengar dan menjadi bahan introspeksi bagi yang sedang berkuasa,” tutup Datu Surya, seraya meninggalkan pesan agar politik tidak hanya menjadi soal menang, tapi juga menjaga nilai, komitmen, dan hubungan kemanusiaan yang telah dibangun bersama.****.
Jurnalis:Tim DK-RED.















