Berau, Kalimantan Timur – Kehadiran Sultan Banjar, YM H. Gusti Pangeran Khairul Saleh, di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, disambut hangat oleh warga, khususnya masyarakat Banjar yang telah lama menetap dan berbaur di Kota Tanjung Redeb.(25/6).
Kunjungan beliau dilakukan dalam rangka silaturahmi serta agenda perjalanan menuju acara Halal Bihalal Kerukunan Bubuhan Banjar Provinsi Kalimantan Utara yang digelar di Kota Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan. Momen kebersamaan ini menjadi istimewa ketika Sultan Banjar menyempatkan diri menunaikan salat Subuh berjamaah di Masjid Jami Baitul Hikmah, salah satu masjid terbesar dan megah di Kabupaten Berau.
Usai salat, beliau bertemu dengan tokoh masyarakat setempat, yakni M. Kafrawi Al-Banjari, ketua masjid sekaligus juriat dari Datu Ali Junaidi Berau Al-Banjari. Pertemuan tersebut menjadi ajang silaturahmi dan memperkuat ikatan kekerabatan antara keluarga Banjar yang tersebar di Kalimantan.
Selanjutnya, Sultan Banjar dan rombongan melanjutkan kegiatan pagi dengan menikmati sarapan nasi kuning khas Banjar di warung legendaris milik Guru Usay (Muhammad Khusairi), seorang perantau asal Martapura, Kalimantan Selatan, yang sudah lama menetap di Berau. Warung yang berlokasi di Jalan Panglima Batur, tepat di depan Masjid Asy Syahadah, dikenal luas oleh masyarakat lokal karena menyajikan kuliner khas Banjar otentik seperti nasi kuning, lontong Banjar, dan soto Banjar.
Menu nasi kuning di tempat ini disajikan dengan berbagai pilihan lauk khas Banjar seperti iwak haruan (ikan gabus), hayam (ayam), hintalu (telur), dan ikan senangin. Sultan Khairul Saleh tampak sangat menikmati hidangan tersebut sambil bercengkrama dengan warga Banjar dan masyarakat Berau lainnya yang juga turut bersantap pagi selepas salat Subuh.
Dalam perbincangan santai itu, beliau sempat menyampaikan pesan hangat kepada masyarakat Banjar di Berau, “Banjar Berau Kada Hambar Lagi, Tatap Masin,” sembari mengacungkan jempol sebagai simbol kebanggaan. Ungkapan itu bermakna bahwa masyarakat Banjar di Berau tetap memiliki identitas dan semangat kebersamaan, bukan sekadar pendatang, namun telah menjadi bagian penting dalam pembangunan dan kerukunan antarsuku di daerah tersebut.
Kunjungan penuh makna itu kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Tanjung Selor, sebagai bagian dari upaya Sultan Banjar menjalin tali silaturahmi dan mempererat hubungan dengan masyarakat Banjar di Kalimantan Utara.***
Tim DK
Penerbit:Marihot















