Berau, Kaltim — Senin, 8/9/2025, Di tengah besarnya alokasi anggaran pendidikan Kabupaten Berau yang mencapai lebih dari Rp 1 triliun pada 2025, kondisi memprihatinkan masih dialami puluhan siswa di pelosok. Sekitar 50 murid SD Negeri Filial Birang Km 42, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kaltim hingga kini terpaksa menumpang belajar di rumah warga lantaran belum memiliki gedung sekolah yang layak.
Fakta ini mencuat setelah sejumlah guru, termasuk Kepala SD Filial Birang Km 42, mendatangi Polsek Gunung Tabur untuk melaporkan dugaan perusakan ruang kelas oleh oknum warga.
Menurut keterangan para guru, kasus perusakan bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, musyawarah bersama warga telah dilakukan untuk mencari solusi, namun aksi serupa tetap berulang.
“Sudah ada kesepakatan agar saling menjaga, tapi kenyataannya perusakan kembali terjadi. Karena itu kami lapor ke polisi agar ada efek jera,” ungkap Nirwani, Plt. Kepala Sekolah SD 1 Filial Birang, didampingi sejumlah guru.
Alih-alih belajar di ruang kelas permanen, para siswa selama ini harus menjalani kegiatan belajar mengajar di bangunan papan sederhana tanpa plafon, berdinding rapuh, dan beratap seng seadanya, Anak-anak belajar menumpang rumah warga.
“Miris. Anak-anak pedalaman juga berhak atas ruang belajar yang aman dan layak, bukan numpang di rumah warga,” tegas Murni pemerhati pendidikan di Berau.
Sayangnya, hingga kini belum ada langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Pendidikan. Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah, hanya membenarkan bahwa SD Filial Birang Km 42 masih menempati rumah warga, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai rencana pembangunan. Ia hanya mengarahkan awak media dapat menjumpai Kabid SD.
Padahal, APBD Berau 2025 tercatat sebesar Rp 5,248 triliun, dengan porsi minimal 20 persen wajib dialokasikan untuk sektor pendidikan sebagaimana diamanatkan Pasal 31 UUD 1945 dan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Artinya, lebih dari Rp 1 triliun seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan sarana pendidikan, termasuk pembangunan sekolah di daerah terpencil.
Tokoh masyarakat setempat menilai pemerintah daerah terlalu berfokus pada pembangunan kawasan perkotaan, sementara sekolah di pedalaman kerap terabaikan, salah satunya SD Filial Birang.
“Kalau APBD besar tapi masih ada sekolah yang menumpang, sepertinya ada yang keliru dalam prioritas pembangunan. Jangan biarkan anak-anak pedalaman terus jadi korban ketidakadilan,” kritik seorang tokoh pendidikan di Berau.
Hingga berita ini diturunkan, motif perusakan ruang kelas oleh oknum warga masih belum terungkap. Namun yang pasti, keberadaan SD Negeri Filial Birang Km 42 yang masih menumpang di rumah warga menjadi potret buram dunia pendidikan di Kabupaten Berau.
Jurnalis: Marihot – Redaksi DK.















