Berau, (DerapKalimantan.com) – Kampung Pegat Bukur, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kembali dilanda banjir besar. Kali ini, genangan air bahkan mencapai atap rumah warga. Akibatnya, banyak warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti mess milik PT. BUMA. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari Pemerintah Daerah (Pemda) Berau beserta jajarannya.(7/5/2025)
Warga berharap Pemda tidak hanya meninjau lokasi, tetapi juga segera mengambil langkah nyata dalam penanganan darurat serta solusi jangka panjang. “Pemerintah harus hadir, jangan biarkan masyarakat hanya pasrah menghadapi bencana. Kami membutuhkan bantuan logistik, kesehatan, dan jaminan keselamatan,” ujar salah satu warga yang mengungsi.
Diduga, banjir yang melanda Pegat Bukur dipicu oleh aktivitas penambangan batu bara yang masih berlangsung di sekitar wilayah tersebut. Warga mendesak agar perusahaan-perusahaan tambang, termasuk PT. BUMA, turut bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan. Aktivitas pertambangan tanpa pengelolaan dampak lingkungan yang baik dinilai memperparah kondisi banjir.
Solusi jangka panjang sangat diperlukan, termasuk pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti tanggul, kanal, atau sistem drainase yang memadai. Selain itu, audit lingkungan terhadap perusahaan tambang perlu segera dilakukan untuk memastikan mereka patuh terhadap regulasi yang berlaku dan tidak merugikan masyarakat.
Keterlibatan semua pihak—Pemda, perusahaan tambang, serta masyarakat—menjadi kunci untuk mencegah bencana serupa terulang. Sudah saatnya kolaborasi nyata dilakukan, bukan hanya janji di atas kertas. Banjir yang terus berulang harus dihentikan demi keselamatan dan masa depan warga Pegat Bukur serta kampung lainnya di wilayah terdampak.(**).
Jurnalis :Marihot.















