Derapkalimantan.com – Jakarta Timur – DKI Jakarta – Habakuk 3:17 bunyinya:
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang…
Ini bagian dari doa nabi Habakuk. Ayat 17 menggambarkan situasi paling kering dan putus asa: semua sumber makanan dan penghidupan hancur. Gagal panen total, ternak habis, ekonomi runtuh.
Arti rohaninya
Inti rohani ayat ini ada di ayat 18-19 yang jadi kelanjutannya:
> “…namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku…”
Uraiannya demikian:
1. Iman yang tidak bersyarat pada keadaan
Habakuk belajar menyembah & percaya bukan karena keadaan baik, tapi karena siapa Allah itu. Sukacita rohaninya tidak digantungkan pada panen, uang, atau keamanan materi. Ini yang menjadi circle dalam hidup kita selama ini, ada dulu baru bersyukur, sembuh dulu baru tersenyum, naik pangkat dulu baru bersyukur.Habakuk mau membalikkan rumus konvensial ini.
2. Membedakan antara hadiah Allah dan Allah sendiri
Pohon ara, anggur, domba itu hadiah Ketika hadiah itu diambil, Habakuk tetap memilih Allah Sang Pemberi. Ini ujian iman kita. apakah kita masih memuji Tuhan saat semua diambil?
3. Sumber kekuatan sejati ada di Allah
Ayat 19: ALLAH Tuhanku itu kekuatanku. Di titik paling lemah secara lahiriah, Habakuk menemukan bahwa kekuatan batin datang dari Tuhan. Dia seperti rusa yang bisa memanjat tempat tinggi karena Tuhan yang menopang.
The last but not least: Tauladan Habakuk 3:17-18 itu definisi iman sejati. Menyembah di tengah kehancuran, bukan karena keadaan berubah, tapi karena hati sudah berlabuh pada Allah.
Syalom
Tuhan memberkati semua
St.JAGIRS














