DERAP KALIMANTAN.COM | TANJUNG SELOR, KALTARA — Suasana penuh kegembiraan dan keakraban mewarnai pesta pernikahan putra tokoh masyarakat Tidung, Bapak Ujang Darmadi, di Kampung Salimbatu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.(9/5).
Acara yang berlangsung meriah ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi keluarga dan masyarakat, tetapi juga menjadi wujud nyata pelestarian budaya Suku Tidung melalui penampilan Tari Jepen yang terus dijaga secara turun-temurun.
Sejak awal hingga akhir acara, lantunan lagu-lagu tradisional khas Tidung mengiringi suasana pesta. Para tamu yang hadir tampak larut dalam nuansa hangat penuh kebersamaan. Tari Jepen pun menjadi pusat perhatian dan diikuti berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Pesta pernikahan yang digelar keluarga besar Ujang Darmadi bersama saudara-saudaranya, Ahmad, Rustam, Riko, dan Karianto, berlangsung semarak dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya leluhur masyarakat Tidung.
Bagi masyarakat Tidung di Kalimantan Utara, Tari Jepen atau Jepin bukan sekadar hiburan. Tarian tradisional ini merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat pesisir Kalimantan Utara, khususnya di wilayah Tarakan, Nunukan, hingga Tana Tidung.
Tari Jepen dikenal memiliki gerakan lembut dan ritmis yang mengikuti iringan alat musik tradisional seperti gambus, ketipung, gong, dan biola. Nuansa Melayu dan Islami sangat terasa dalam setiap gerakannya. Karena itu, tarian ini hampir selalu hadir dalam berbagai kegiatan adat, seperti pesta pernikahan, penyambutan tamu, festival budaya, hingga perayaan daerah.
Dalam pesta pernikahan tersebut, Tari Jepen terus ditampilkan hingga acara selesai. Para tamu dan masyarakat yang hadir pun bergantian menari bersama sebagai simbol kebersamaan dan persatuan masyarakat Tidung.
“Kebersamaan masyarakat Tidung harus tetap dijaga secara turun-temurun. Karena itu budaya seperti Tari Jepen terus kami lestarikan dalam setiap kegiatan adat maupun acara keluarga,” ujar Ujang Darmadi di sela-sela acara.
Menurut masyarakat setempat, Tari Jepen memiliki makna mendalam sebagai simbol penghormatan kepada tamu, mempererat persaudaraan, serta menjaga warisan budaya leluhur agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Pelestarian budaya melalui kegiatan adat seperti ini dinilai penting untuk memperkuat identitas masyarakat lokal sekaligus mengenalkan budaya Tidung kepada generasi muda. Dengan semangat kebersamaan yang terus dijaga, masyarakat Tidung di Kalimantan Utara berharap warisan budaya leluhur tetap hidup dan dikenal hingga masa mendatang.
Turut hadir dalam acara rentak tari malam tersebut rombongan dari Kabupaten Berau, di antaranya unsur dari Lembaga BABADA Kabupaten Berau, H. Ideramsyah Husien, H. Jainuddin dari Ikatan Kerukunan Keluarga Bajau, serta pengurus Ikatan Keluarga Tidung Kabupaten Berau, Asari Junaidi.
Menurut H. Ideramsyah Husien, penampilan Tari Jepin masyarakat Tidung merupakan aset budaya penting yang harus terus dipertahankan. Ia menilai masyarakat Berau dan Tidung memiliki ikatan sejarah yang erat dalam rumpun Kesultanan, sehingga kemiripan seni dan budaya di antara keduanya masih sangat kental.
Jurnalis DK: Marihot















