BANGGAI KEPULAUAN – Sejarah mencatat, pada era kepemimpinan tahun 2011, Kabupaten Banggai Kepulauan pernah dipimpin oleh tangan-tangan yang bersih, jujur, dan penuh pengabdian. Di bawah komando Bupati Bapak Lania Laosa, daerah ini berhasil meraih predikat tertinggi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, sebuah bukti nyata pengelolaan keuangan yang transparan dan bebas korupsi.
PRINSIP KETAT: TUNJANGAN UNTUK KEPENTINGAN RAKYAT, BUKUT UNTUK KAYA-KAYAAN
Sebagai seorang pemimpin daerah, memang benar Bupati mendapatkan tunjangan jabatan sesuai aturan yang berlaku. Namun, bagi Bapak Lania Laosa, uang itu bukan milik pribadi yang bisa dihamburkan atau disalahgunakan.
“Seorang Bupati memang dapat tunjangan, akan tetapi tunjangan itu pun tak bisa disalahgunakan.”
Prinsip inilah yang dipegang teguh. Beliau memandang bahwa setiap rupiah yang diterima, baik gaji maupun tunjangan, adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Tidak ada satupun dana yang digunakan untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau menumpuk kekayaan. Semua dikelola dengan sangat hati-hati, sesuai aturan, dan dikembalikan lagi untuk kepentingan masyarakat luas.
PEMIMPIN YANG PERGI DENGAN TANGAN KOSONG
Buktinya sangat nyata dan membanggakan. Hingga akhir masa jabatan beliau selesai, Bupati tidak memiliki rumah pribadi sendiri. Selama menjabat, beliau dan keluarga tinggal di rumah dinas, dan saat mengakhiri tugas, beliau pergi dengan tangan kosong.
Gaji yang diterima saat itu pun sangatlah minim, hanya sekitar Rp 6.500.000,- per bulan. Angka yang sangat kecil untuk ukuran seorang Kepala Daerah, namun beliau tidak pernah mengeluh dan tetap bekerja maksimal dengan integritas yang tak tergoyahkan.
MOMEN HARU: MASYARAKAT MENANGIS MEMOHON “JANGAN PERGI”
Momen perpisahan di akhir jabatan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Ketika masa bakti selesai, ribuan masyarakat turun ke jalan.
Air mata warga membanjiri jalanan. Rakyat menangis, memeluk, dan memohon dengan sangat agar sang pemimpin dan istri tercinta untuk tetap tinggal atau kembali lagi. Teriakan “Ibu Kabupaten jangan pergi… Kami ingin Ibu Kabupaten kembali…” bergema di mana-mana. Rasa kehilangan yang sangat mendalam itu membuktikan betapa besarnya kasih sayang rakyat kepada mereka.
BUNDA NAOMI LAOSA / JENY CLAUDYA LUMOWA, S.H.: PEKERJA KERAS YANG PEDULI LINGKUNGAN
Di sisi Bapak Bupati, berdiri sosok wanita tangguh yang menjadi pilar kekuatan, yaitu Ibu Naomi Laosa yang akrab disapa Jeny Claudya Lumowa, S.H.
Ibu Jeny dikenal sangat rajin turun ke desa-desa, masuk ke pelosok, dan berbaur langsung dengan rakyat. Beliau memiliki perhatian besar terhadap kebersihan dan kesehatan.
Beliau sangat rajin mengajak dan mencontohkan langsung bahwa “Pasar itu harus bersih”. Beliau tidak segan turun tangan memastikan tempat perdagangan warga terjaga kebersihannya, demi kenyamanan dan kesehatan bersama.
FOKUS PADA PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK
Kini, meski masa bakti sebagai Ibu Kabupaten telah usai, jiwa pengabdian Ibu Jeny Claudya Lumowa tidak pernah padam. Beliau memilih jalan mulia dengan fokus total pada bidang yang menjadi perhatian besarnya, yaitu Perlindungan Perempuan dan Anak.
Sebagai Ketua Nasional TRCPPA Indonesia, beliau kini menjadi garda terdepan yang berjuang menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, dan membela hak-hak kaum perempuan serta anak-anak di seluruh Indonesia.
WARISAN KETELADANAN
Kisah Bapak Lania Laosa dan Ibu Jeny Claudya Lumowa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa menjadi pemimpin bukan soal seberapa banyak harta yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar kejujuran dan cinta yang diberikan kepada rakyat.
Mereka pergi dengan tangan kosong, namun meninggalkan nama harum dan doa restu di hati seluruh masyarakat Banggai Kepulauan.
(Redaksi)
Humas TRCPPA
081196001742















