Jakarta – Perjuangan panjang tengah dijalani Zoeya Lituhayu, bayi asal Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang didiagnosis menderita Atresia Bilier, penyakit langka yang menyerang fungsi hati dengan angka kejadian sekitar 1 dari 15.000 kelahiran. Selama kurang lebih sembilan bulan terakhir, Zoeya bersama keluarganya bertahan di Jakarta untuk menjalani serangkaian pengobatan dan persiapan transplantasi hati di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), satu-satunya rumah sakit di Indonesia yang melakukan transplantasi hati pada anak.
Kini, Zoeya memasuki tahapan edukasi dan pendaftaran transplantasi hati. Keluarga telah bertemu dengan tim transplantasi hati RSCM, termasuk Ners nay koodinator transplastasi dan Viro pekerja sosial yang selama ini mendampingi proses pra dan pasca-transplantasi.
“Alhamdulillah, saat ini Zoeya sudah berada di tahap edukasi transplantasi. Kami sedang menunggu panggilan untuk menjalani screening hati sebelum tindakan besar transplantasi dilakukan,” ujar keluarga Zoeya dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).
Selain menjalani proses di RSCM, setiap bulan Zoeya juga melakukan kunjungan rutin ke Klinik Anak Kiddie Care, Sunter, Jakarta, untuk berkonsultasi dengan Prof. Dr. dr. Hanifah Oswari, Sp.A(K), pakar Gastrohepatologi Anak sekaligus Ketua Tim Transplantasi Hati RSCM. Setiap perkembangan kondisi, keluhan, hingga evaluasi bulanan Zoeya disampaikan kepada tim medis guna memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai target.
Perjalanan Zoeya tidak hanya dipenuhi tantangan medis, tetapi juga dukungan dari berbagai pihak. Selama berada di Jakarta, keluarga mengaku banyak bertemu dengan orang-orang yang memberikan semangat dan pendampingan, salah satunya Yayasan Rumah Satu Hati yang menaungi anak-anak penyintas gangguan fungsi hati kronis di Indonesia.
Di yayasan tersebut, Zoeya dan keluarganya kerap bersilaturahmi dengan orang tua dan anak-anak lain yang tengah menjalani perjuangan serupa. Kehadiran komunitas tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman, edukasi, serta dukungan moral yang sangat berarti bagi keluarga.
Meski demikian, kondisi kesehatan Zoeya masih memerlukan perhatian serius. Berdasarkan keterangan keluarga, kerusakan hati yang dialami Zoeya telah mencapai stadium fibrosis F4. Selama menjalani pengobatan di Jakarta, Zoeya beberapa kali harus menjalani transfusi albumin akibat kadar albumin yang rendah. Ia juga tercatat mengalami muntah darah sebanyak dua kali dan buang air besar berdarah akibat komplikasi penyakit hati yang dideritanya.
Belum lama ini, Zoeya juga menjalani tindakan ligasi dengan empat ikatan untuk menangani gangguan pada pembuluh darah di saluran pencernaan yang dipicu oleh kondisi hatinya.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga memastikan seluruh persyaratan transplantasi telah dipenuhi. Berbagai pemeriksaan kesehatan, mulai dari kepala, mata, telinga, gigi, hingga jantung, telah dilakukan dan menunjukkan hasil yang baik. Status gizi serta lingkar lengan Zoeya sudah memenuhi standar medis yang ditetapkan. Sementara itu, seluruh imunisasi wajib maupun tambahan telah diselesaikan.
Sang ibu pun telah menyatakan kesiapannya menjadi pendonor hati. Kesamaan golongan darah B+ menjadi salah satu faktor pendukung. Demi meningkatkan peluang keberhasilan transplantasi, ibu Zoeya menjalani pola hidup sehat dengan olahraga dan diet ketat selama empat bulan terakhir, hingga berhasil menurunkan berat badan dari 65 kilogram menjadi 55 kilogram guna menghindari kondisi fatty liver.
“Kami sangat siap, baik lahir maupun batin. Semua syarat transplantasi sudah kami penuhi. Mohon doa dari seluruh masyarakat Kalimantan, khususnya Kabupaten Berau, agar Zoeya segera mendapatkan kuota transplantasi hati tahun ini,” ungkap keluarga.
Keluarga juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Kalimantan yang terus memberikan dukungan, termasuk Media Derap Kalimantan Kabupaten Berau yang disebut konsisten mendampingi perjuangan Zoeya sejak awal.
Perjuangan Zoeya Lituhayu menjadi potret keteguhan seorang anak dan keluarganya dalam menghadapi penyakit langka. Dari Berau menuju Jakarta, harapan itu masih menyala: menanti satu kesempatan untuk mendapatkan transplantasi hati dan melanjutkan kehidupan yang lebih baik.(**)).
Dari Jakarta Reporter DK : Johan
Penerbit: Marihot















