Surabaya, [10/12/2025l] – Seorang sosok yang semula dikenal sebagai model tahun 90-an dan artis awal 2000-an, Jeny Claudya Lumowa yang lebih akrab disapa Naomi, telah menorehkan jejak luar biasa sebagai pejuang perlindungan anak Indonesia. Perjalanan nya dimulai dari panggung catwalk hingga lapangan perjuangan yang penuh tantangan.
Naomi pernah menghabiskan waktu belajar di luar negeri, tepatnya di Yordania, dengan jurusan Hubungan Masyarakat. Pada tahun 1995, dia meraih prestasi di panggung catwalk di Surabaya, sebelum melangkah ke dunia seni peran sebagai artis tahun 2000-an dan membintangi film FTV di Multivision Plus bersama Rum Punjabi.
Titik balik terjadi pada tahun 2000 ketika dia bertemu Ketua Umum Komnas Anak, Bapak Aris Merdeka Sirait. Sejak itu, Naomi melepaskan karirnya sebagai artis untuk fokus terlibat dalam pergerakan perlindungan anak. Selama 5 tahun, dia menjabat sebagai Koordinator Lapangan Komnas Perlindungan Anak dan selalu mendampingi Bapak Aris ke mana pun turun ke lapangan, keliling Indonesia.
Sebagai anak didik Bapak Aris, Naomi meraih prestasi penting dengan menyelesaikan kasus kematian anak Angelin di Bali. Prestasinya itu membuatnya dipanggil Presiden ke Istana pada tahun 2016. Setelah itu, dia dipercaya oleh Bapak Aris untuk menjalankan lembaga bernama Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak (TRCPA), yang kemudian berubah nama menjadi TRCPPA Indonesia, dengan dia menjabat sebagai Ketua Nasional.
Dengan amanah yang dipikul, TRCPPA telah mencakup separuh wilayah Indonesia melalui cabang-cabangnya. Setelah kepergian Bapak Aris Merdeka Sirait, Naomi menjadi figur tersisa yang meneruskan perjuangan “Opung Aris”. Dia juga merubah sistem manajemen untuk memastikan ada kaderisasi dalam perjuangan ini.
“Sayaya sudah hibahkan nyawa saya untuk anak-anak Indonesia. Hanya Naomi lah figur yang tersisa sebagai pejuang perlindungan anak Indonesia,” ungkapnya, menambahkan bahwa TRCPPA selalu rajin berkoordinasi dengan Komnas Perlindungan Anak. “Saya hanya meneruskan perjuangan Opung, seperti kata-kata terakhirnya sebelum pergi untuk selama-lamanya. ***
(Tim DK).















