Jakarta -Di tengah kota yang kerap lupa pada dukanya sendiri, cahaya lilin menyala di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Bukan dari lampu panggung, melainkan dari ketulusan. Front Penggerak Seniman Taman Ismail Marzuki (FSP-TIM) menggelar Malam Doa dan Solidaritas Kemanusiaan.
Malam itu, TIM tidak mementaskan pertunjukan. Ia menggelar kepedulian.
“Malam doa ini, kami gagas berangkat dari ketulusikhlasan kami sebagai seniman dan sebagai rasa cinta kami terhadap manusia ciptaan Tuhan. Yang pertama-tama adalah bagaimana acara ini bukan hanya sebagai seremonial, sebagai bentuk moral, sebagai panggilan kami sebagai anak bangsa di mana ada di Front Penggerak Seniman Taman Ismail Marzuki ini,” ujar David, perwakilan FSP-TIM di lokasi acara.
Panggung malam itu diisi tanpa sekat. Tidak ada bintang tamu, yang ada adalah sesama manusia. Para pegiat kebudayaan mempersembahkan apa yang paling mereka bisa: puisi yang dibacakan dengan suara bergetar, tari yang menahan tangis, musik yang lirih, orasi kebangsaan, hingga mimbar bebas yang dibuka untuk siapa saja yang terpanggil.
“Kami yang ada dalam keluarga besar Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki ini merangkumi puisi, dalam bentuk tari, musik, dalam bentuk orasi, dan open mic juga kepada siapa yang merasa terpanggil akan keberadaan saudara-saudara kita yang sekarang ini sedang tertimpa,” tutur David.
Bagi FSP-TIM, seni tidak boleh netral ketika kemanusiaan sedang diuji. Malam doa ini adalah penanda bahwa duka itu masih ada, bahwa nama-nama korban yang belum ditemukan masih harus disebut, dan bahwa keluarga yang ditinggalkan tidak boleh dibiarkan menunggu dalam sepi seorang diri.
Melalui panggung solidaritas ini, David berharap dukungan moril terus mengalir. Sebuah pesan sederhana namun paling dibutuhkan hari ini: bahwa mereka tidak berjalan sendirian.(DW)















