Berau, DerapKalimantan.com — Gelombang unjuk rasa yang bermula di Jakarta sejak 25 September 2025 kini terus merembet ke berbagai daerah di Indonesia. Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menjadi salah satu daerah yang turut menggelar aksi serentak pada Senin (1/9/2025).
Aksi di Berau dimulai dari halaman Kantor Bupati Berau sekitar pukul 09.00 WITA. Ratusan massa dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, aktivis lingkungan, hingga warga berkumpul membawa spanduk dan pengeras suara terus berjalan melakukan konvoi.
Dari titik awal, massa kemudian bergerak menuju gedung DPRD Berau di Jalan Gatot Subroto. Jarak tempuh sekitar lima kilometer ditempuh dengan berjalan kaki sambil meneriakkan yel-yel dan menyampaikan kritik terhadap kinerja wakil rakyat.
Dalam orasinya, para pengunjuk rasa menilai DPRD Berau belum maksimal dalam mendengar kan suara rakyatnya dengan memberikan pelayanan publik dan memperjuangkan kepentingan masyarakat. Isu utama yang disuarakan adalah sulitnya warga mendapat kesempatan audiensi atau hearing terkait persoalan tambang dan lahan, isu ini yang menjadi sorotan publik Berau saat ini.
“Selama ini permintaan kami untuk audiensi kerap tak diindahkan. Padahal masyarakat ingin solusi konkret, bukan sekadar janji,” teriak salah satu orator sambil menyampaikan isu lain yang tidak kalah pentingnya langsung disambut sorak-sorai massa.
Mereka menuding DPRD seolah menutup telinga atas aspirasi warga. Menurut massa, kondisi tersebut memperlihatkan lemahnya fungsi representasi dewan yang semestinya menjadi jembatan antara rakyat dan pemerintah.
Gelombang protes yang menjalar hingga ke daerah-daerah disebut sebagai akumulasi kekecewaan publik terhadap lembaga legislatif, yang kerap tidak menjaga etika dalam berbicara, sehingga kesannya menyakiti hati rakyatnya hal ini menjadi sorotan tajam baik di tingkat pusat maupun daerah. Tidak hanya di Jakarta, suara perlawanan kini bergema dari pelosok, termasuk di Bumi Batiwakkal.
Selain soal tambang dan lahan, peserta aksi juga menyinggung minimnya pengawasan DPRD terhadap sejumlah program daerah yang dinilai belum menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Mereka menuntut agar anggota dewan melakukan introspeksi diri dan bekerja sesuai mandat rakyat.
Hingga siang hari, aksi berjalan dengan pengawalan ketat dari aparat Kepolisian dan TNI, Meski situasi sempat memanas dengan berbagai kritik pedas, kondisi lapangan tetap terkendali dan tidak terjadi bentrokan.
Massa berjanji akan kembali turun ke jalan apabila tuntutan mereka tidak ditindaklanjuti. “Kami akan terus bersuara sampai ada perubahan nyata,” ujar salah seorang perwakilan demonstran sebelum membubarkan diri secara tertib.***
Jurnalis: Marihot















