Sosialisasi Diplomasi Spiritual Global semakin gencar mendapat sambutan dari berbagai kalangan. Pada kesempatan kali ini keluarga besar Edukasi Inayah yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan memberi tempat khusus kepada Sri Eko Sriyanto Galgendu, selaku Pemimpin Spiritual Nusantara untuk memaparkan pokok utama dari kandungan nilai spiritual yang kini tengah menjadi primadona pilihan bahwa dua tipe sosok pemimpin yang dapat mengubah peradaban manusia untuk masa depan adalah pemimpin politik dan pemimpin spiritual. Sementara kondisi obyektif yang terjadi bagi seluruh warga dunia adakah krisis etika, moral dan akhlak manusia yang terdegradasi berada pada titik nol, terendah atau bahkan minus nilai spiritualitasnya.
Harry Samputra Agus, Direktur PT. Kabarindo Media Utama TV yang fokus pada masalah budaya berkenan dialog tentang spiritual bersama Sri Eko Sriyanto Galgendu, di Studio TV Badaya yang terafiliasi dengan Lembaga Ejukasi Inayah di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, 23 April 2026 didampingi oleh Bambang, Den Bagus Mulyono serta kawan-kawan.
Komentar Harry Samputra Agus tentang “Kitab MA HA IS MA YA” yang menjadi pembahasan, mengungkapkan bahwa do’a seperti yang termuat dalam Kitab hasil dari monolog 20 jam non stop itu, terkesan sangat transenden, jauh melampaui penghayatan, ujarnya yang lebih cenderung melihat spiritualitas dari perspektif budaya dan filsafat.
Karenanya, esensi dasar dari kerangka berpikir budaya sebagai landasan pijak etika dan moralitas, sangat relevan sebagai prasyarat absahnya penjelajahan spiritual yang sahih untuk dipertanggung jawabkan sebagai upaya manusia mendekatkan diri kepada Tuhan. Sementara kerangka berfikir filsafat sebagai upaya berpikir radikal — menukik dan mendalam hingga ke akar masalah — mencari asas atau hakikat — secara kritis dan rasional serta sistematis untuk kebenaran yang hakiki. Sementara spiritualitas hanya mungkin dapat diresapi cukup dengan rasa, hati dan keyakinan yang acap diartikan tidak ilmiah, lantaran tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia.
Analisis mendasar dari kerangka berpikir filsafat yang berpijak mengacu pada ontologi, epistemologi dan sosiologi, memang bisa tersesat karena mengabaikan bisikan hari dan jiwa sebagai anugrah dari Tuhan yang tidak diikutkan dalam membuat kesimpulan. Sebab ontologi sebagai pilar untuk membahas tentang hakikat kebenaran tidak bisa dijadikan penakar nilai-nilai getaran spiritual yang cuma bisa dirasakan. Jadi, pola berpikir ontologis untuk memahami hakikat dasar sesuatu yang kasat mata — material — sifatnya. Konsekuensinya, pola berpikir ontologis yang hanya mungkin membahas obyek secara fisik, jadi terjebak pada banyak hal yang bersifat material, tidak mampu menyentuh apa yang dimaksudkan dari kandungan-kandungan spiritual yang jelas tidak dalam bentuk material.
Jika ilmu dan pengetahuan dapat dikaji dengan tiga pilar tersebut — ontologis, epistemologis dan aksiologis — wajar bila para filosof Barat umumnya dapat menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan dapat dikaji dengan tiga dasar pilar tersebut. Sehingga ilmu pengetahuan Barat ditopang oleh praktek dan nilai-nilai materialisme — bukan spiritualisme — sehingga terkesan sangat sekuler.
Sedangkan ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam jelas mengacu pada Al Qur’an dan hadist. Jika otologis sebagai fondasi, epistemologis adalah dinding dan sosiologis merupakan atapnya, lalu apa isi yang ada di struktur bangunan tersebut.
Karena itu untuk memahami spiritualitas tidak bisa dilakukan dengan kepongahan akal pikiran, sebab intelektualitas tetap tidak mampu menjangkau apa yang dapat dilakukan melalui spiritualitas. Peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad SAW, mana mungkin dapat dijangkau oleh akal manusia, sebab perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah dan terus melesat ke Sidratul Muntaha itu, bagaimana mungkin bisa dipahami oleh akal sehat sekalipun. Oleh karena hanya dengan kemampuan dan kecerdasan spiritual kita yakin dan percaya semua itu bukti dari Tuhan Yang Maha Kuasa ada di dalam batin, jiwa dan hati kita semua.
Pamulang, 23 April 2026















