Berau, DerapKalimantan.com — Jalan poros Rinding, yang menghubungkan wilayah Kec. Teluk Bayur di Kabupaten Berau, kian memprihatinkan. Lubang menganga, gelombang tajam, hingga kemiringan ekstrim menjadi santapan harian para pengendara. Meski sudah berbulan-bulan rusak, jalan ini seolah luput dari perhatian Pemda. Rabu (14/5/2025), warga menunjukkan bentuk protes kreatif nan getir: menanam pohon kelapa di tengah badan jalan.
Mengapa pohon kelapa? “Supaya pemerintah tahu, mungkin harus tumbuh kebun dulu baru jalan ini diperbaiki,” sindir seorang warga dengan nada kesal. Aksi penanaman ini bukan tanpa alasan. Banyak pengendara, termasuk anak sekolah dan pekerja, telah menjadi korban jebakan jalan rusak. Bahkan tidak sedikit yang jatuh hingga mengalami luka.
Warga mengaku sudah berkali-kali mengeluhkan kondisi ini ke Pemerintah Daerah melalui Dinas PUPR Berau. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan, bahkan sekadar janji manis pun tak terdengar. Jalan seolah tak masuk prioritas, meski jelas menjadi jalur vital penghubung Jalan dari berbagai kota dan kampung dan aktivitas ekonomi warga.
“Kalau truk penuh muatan lewat sini dan terguling karena jalan miring, siapa yang tanggung jawab kalau sampai menimpa rumah?” ujar warga lainnya. Ketakutan ini bukan sekadar bayangan. Jalan poros Rinding kini tak ubahnya seperti kubangan miring dan sebagian menggunung hingga menanti korban berikutnya.
Ironisnya, padahal anggaran infrastruktur selalu digaungkan setiap tahun. Namun, realisasi di lapangan jauh dari harapan. Jalan ini seakan dibiarkan menunggu ajalnya. Apakah harus menunggu jalan benar-benar putus atau ada korban jiwa dulu agar diperbaiki?
Warga menuntut tindakan nyata, bukan sekadar survei atau kunjungan dadakan pejabat berseragam lengkap. Jika perbaikan permanen belum memungkinkan, mereka meminta setidaknya ada langkah darurat untuk mencegah makin banyak korban. “Kalau kelapa bisa tumbuh di jalan, artinya lubangnya dalam, bukan?” tukas warga dengan getir.
Hingga kini, belum ada satu pun pernyataan resmi dari pihak Pemda Berau.
Warga masih terus menanti dengan sabar—atau tepatnya, terpaksa bersabar—menunggu keajaiban datang dari pihak yang berwenang. Sementara itu, pohon kelapa berdiri tegak di jalanan, menjadi simbol diam atas suara yang tak juga didengar.(**).
Jurnalis : Marihot















