Purwakarta — Kematian massal ikan kembali melanda keramba jaring apung (KJA) Waduk Jatiluhur (Waduk Djuanda), Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Ribuan ikan budidaya dilaporkan mati di sejumlah titik perairan, menyebabkan kerugian besar bagi para pembudidaya ikan setempat.
Peristiwa tersebut terjadi secara bertahap sejak 23 hingga 26 Januari 2026, seiring memburuknya kondisi cuaca di wilayah waduk. Angin kencang disertai hujan yang turun terus-menerus diduga kuat memicu penurunan kadar oksigen terlarut di perairan.
Salah seorang petani ikan keramba di Waduk Jatiluhur, Dewi Sri Wijayanti, mengatakan tanda-tanda kematian ikan sudah terlihat sejak beberapa hari sebelum kejadian puncak.
“Tanggal 23 cuaca sudah tidak normal, angin kencang dan hujan terus. Ikan mulai minggir ke permukaan karena kekurangan oksigen. Tanggal 24 ikan mulai mabuk, dan tanggal 26 ikan sudah mati semua,” ujar Dewi Sri Wijayanti kepada wartawan.
Menurut Dewi, ikan-ikan yang mati mayoritas merupakan ikan mas dan nila yang telah berusia di atas tiga bulan dan mendekati masa panen. Akibat kejadian tersebut, hasil budidaya yang seharusnya bisa dipanen terpaksa gagal total.
Para petani KJA di Waduk Jatiluhur memperkirakan total kerugian akibat kematian massal ikan ini mencapai sekitar Rp5 miliar, berdasarkan jumlah petak keramba yang terdampak dan bobot ikan yang mati.
Sementara itu, Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakan) Kabupaten Purwakarta menjelaskan bahwa kematian massal ikan tersebut berkaitan dengan fenomena upwelling, yakni naiknya air dari dasar waduk ke permukaan yang membawa kandungan gas beracun serta minim oksigen. Fenomena ini kerap terjadi saat musim hujan dengan intensitas tinggi.
Selain faktor cuaca, kepadatan keramba jaring apung di Waduk Jatiluhur juga dinilai memperparah dampak penurunan kualitas air. Ketika kondisi perairan terganggu, ikan dalam jumlah besar tidak memiliki cukup oksigen untuk bertahan hidup.
Pemerintah daerah mengimbau para petani ikan untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan, termasuk dengan mengurangi kepadatan tebar ikan dan memantau perubahan kondisi air secara berkala.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait bantuan atau kompensasi bagi petani ikan yang terdampak. Pemerintah Kabupaten Purwakarta masih melakukan pendataan dan koordinasi dengan instansi terkait guna mencegah kejadian serupa terulang.
DW.















