PENULIS : DATU RIZKY HARDIKA ZULFAKAR)
DerapKalimantan.com,-Ketergantungan pembangunan Kabupaten Berau terhadap sektor batu bara dinilai tidak hanya mempercepat kerusakan ekologis.
Tetapi juga memperbesar ancaman bencana hidrometeorologi yang semakin nyata dan telah menelan korban jiwa di sejumlah wilayah Berau.
Pola pembangunan berbasis eksploitasi sumber daya alam dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan berkurangnya tutupan hutan dan melemahnya fungsi daerah aliran sungai (DAS).
Kondisi ini dinilai berkontribusi langsung terhadap meningkatnya risiko banjir dan bencana lingkungan lainnya,terutama saat curah hujan tinggi.
Ancaman bencana di Kabupaten Berau bukan sekadar potensi, melainkan telah terjadi berulang kali dengan dampak serius terhadap keselamatan masyarakat.
Pada 25 Maret 2025, hujan deras menyebabkan Sungai Kelay meluap dan merendam wilayah di Kecamatan Sambaliung dan Teluk Bayur.
Banjir tersebut mengakibatkan dua warga lanjut usia meninggal dunia, masing-masing bernama Yea Deng (70) dan Lajiu Langa (68).
Bencana ini berdampak pada sedikitnya tujuh desa, termasuk Desa Tumbit Dayak, Long Lanuk, Inaran, Bena Baru, Pegat Baru, Labanan Makarti, dan Tumbit Melayu.
Ratusan rumah warga terendam dan aktivitas masyarakat lumpuh. Selanjutnya, pada 27–28 Mei 2025, banjir kembali melanda wilayah hulu Berau, khususnya Kecamatan Segah.
Kampung Long La’ai dan Kampung Long Ayap menjadi daerah terdampak terparah, dengan ketinggian air mencapai sekitar lima meter. Sedikitnya 640 warga dari 212 kepala keluarga terdampak. Sejumlah fasilitas publik seperti sekolah, puskesmas, rumah ibadah, kantor kampung, dan dermaga mengalami kerusakan akibat terjangan arus deras dan material kayu dari hulu sungai.
Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), rangkaian banjir pada akhir Mei 2025 tersebut berdampak pada belasan kampung di empat kecamatan, yakni Segah, Kelay, Sambaliung, dan Teluk Bayur.
Ribuan rumah terendam dan ratusan warga terpaksa mengungsi. Data ini menunjukkan meningkatnya kerentanan Kabupaten Berau terhadap bencana banjir yang dipicu oleh curah hujan ekstrem dan menurunnya daya dukung lingkungan.
Saya sebagai salah satu zuriat keturunan Raja Alam Berau menegaskan bahwa kondisi ini merupakan peringatan serius bagi arah pembangunan daerah. Menurutnya, dalam sejarah dan kearifan lokal Berau, hutan dan sungai dijaga sebagai pelindung kehidupan dan keselamatan masyarakat.
Alam Berau bukan sekadar sumber pendapatan, tetapi benteng keselamatan rakyat. Ketika hutan rusak dan sungai kehilangan penyangganya, bencana menjadi ancaman yang tidak terhindarkan. Saya menilai kewajiban reboisasi dan rehabilitasi daerah aliran sungai sering dijadikan pembenaran atas pembukaan hutan secara masif. Padahal, kerusakan ekologis yang telah terjadi tidak dapat dipulihkan sepenuhnya dalam waktu singkat.
Ketergantungan APBD Kabupaten Berau terhadap sektor batu bara dinilai memperlemah komitmen perlindungan lingkungan.
Tanpa perubahan arah kebijakan, eksploitasi yang terus berlanjut dikhawatirkan akan semakin meningkatkan risiko bencana ekologis, mengancam keselamatan warga, dan membebani daerah dengan kerugian sosial serta ekonomi yang lebih besar di masa depan.
Saya mendorong pemerintah daerah agar menjadikan perlindungan hutan dan mitigasi bencana sebagai kebijakan strategis utama.
Pembangunan harus mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keselamatan rakyat dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Menjaga alam bukan sekadar kewajiban regulasi, tetapi jalan keselamatan bagi masyarakat Berau.
Mahasiswa FISIP Universitas Hasanuddin, Prodi Ilmu Politik















