Jakarta – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut “mau dolar berapa ribu kek, kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar” menuai kritik tajam. Pernyataan itu sebagai salah satu yang paling berbahaya yang pernah diucapkan seorang kepala negara terkait mata uangnya sendiri.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo di hadapan ribuan warga di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Dalam pidatonya, ia meremehkan dampak pelemahan rupiah yang saat itu menyentuh level Rp17.600 per dolar AS. “Yang pusing yang suka ke luar negeri,” ujar Presiden disambut tawa.
Sejarah mencatat dua negara yang pernah memiliki pola pikir serupa, Zimbabwe dan Venezuela. Keduanya kini menjadi contoh nyata bagaimana keruntuhan mata uang menghancurkan rakyat kecil, yang mereka sebut “tidak pakai dolar”.
Robert Mugabe, mantan Presiden Zimbabwe, bertahun-tahun meyakinkan rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat. Ia mengatakan rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Apa yang terjadi? Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7 sextillion persen per tahun pada 2008. Angka yang nyaris tak terbayangkan. Uang tak ubahnya kertas biasa seperti kertas HVS, Rakyat membawa uang dalam keranjang penuh hanya untuk membeli sepotong roti. Petani di desa yang tidak pakai dolar mendapati hasil panennya tak laku karena harga berubah setiap jam. Tabungan seumur hidup lenyap dalam semalam.
Akhirnya, Zimbabwe menyerah. Mereka menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi. Mata uang sendiri sudah tak bernilai sama sekali.
Kisah serupa terjadi di Venezuela. Hugo Chavez dan kemudian Nicolas Maduro bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil. “Yang penting ada subsidi, yang penting ada program sosial,” kata mereka.
Hasilnya? Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000 persen pada 2018. Dokter, guru, insinyur semua yang memiliki pendidikan yang bisa keluar pergi meninggalkan Venezuela. Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya. Rakyat desa yang “tidak pakai dolar” itu akhirnya mengantre berhari-hari hanya untuk mendapatkan sekarung tepung. Mereka terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang sendiri tak dipercaya siapa pun.
Analis yang sama menegaskan bahwa pernyataan “rakyat desa tidak pakai dolar” adalah kesalahan fatal. Sebab, meskipun rakyat desa tidak memegang dolar secara fisik, hampir seluruh kebutuhan pokok mereka harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Kedelai, bahan baku tempe dan tahu yang dikonsumsi setiap hari, 90 persen diimpor dari Amerika Serikat. Harganya dalam dolar. Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000, harga kedelai naik. Harga tempe dan tahu ikut naik. Penjual tahu tempe di desa langsung merasakan dampaknya.
Gandum, bahan baku roti, mie instan, biskuit 100 persen diimpor. Harganya dalam dolar. Pupuk yang dipakai petani desa, sebagian besar bahan bakunya diimpor. Harganya dalam dolar. Obat-obatan generik, bahan bakunya diimpor dari China dan India. Harganya juga dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar, tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Yang lebih mengkhawatirkan, menurut para ekonom, adalah sinyal yang dikirim presiden ke pasar. Ketika kepala negara sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya, apa yang akan dipikirkan investor asing? Apa yang akan dilakukan rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
“Saat ini kita sudah melihat gejala rakyat berlari ke dolar dan emas. Itu yang dikhawatirkan para ekonom. Pernyataan presiden justru memperburuk kepercayaan,” kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti.
Sementara itu, rupiah masih bergerak di level Rp17.450-Rp17.600 per dolar AS dalam sepekan terakhir. Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas.
#presidenremehkankursdolar #venezuela #zimbabwe #uangkertas














