JAKARTA, DerapKalimantan.com – Perjuangan panjang melawan penyakit atresia bilier akhirnya mengantarkan Zoeya Lituhayu, bayi berusia 1 tahun 9 bulan asal Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menjalani transplantasi hati di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Momen bersejarah tersebut berlangsung pada 26 Oktober 2026. Zoeya tercatat sebagai pasien transplantasi hati ke-110 di RSCM sekaligus menjadi pasien pertama dari Kabupaten Berau yang menjalani tindakan transplantasi hati di rumah sakit rujukan nasional tersebut.
Di balik keberhasilan menjalani operasi besar itu, tersimpan perjuangan panjang, ketegaran keluarga, serta pengorbanan seorang ibu yang rela menjadi pendonor dengan memberikan sebagian organ hatinya demi menyelamatkan sang buah hati.
Zoeya didiagnosis mengalami atresia bilier, penyakit langka yang menyerang saluran empedu dan menyebabkan kerusakan fungsi hati hingga berujung pada gagal hati. Penyakit ini diperkirakan terjadi pada sekitar 1 dari 15.000 kelahiran.
Kondisi Zoeya dalam beberapa bulan terakhir sebelum transplantasi sempat sangat mengkhawatirkan. Ia mengalami muntah darah sebanyak dua kali dan buang air besar (BAB) berdarah sebanyak tiga kali akibat gangguan pembuluh darah pada saluran pencernaan.
Untuk menjaga kondisi Zoeya tetap stabil sembari menunggu waktu transplantasi, tim medis telah melakukan tindakan EGD (esofagogastroduodenoskopi) dengan persiapan ligasi sebanyak lima kali, masing-masing dengan interval sekitar tiga minggu.
Tindakan tersebut dilakukan atas arahan Prof. Dr. dr. Hanifah Oswari, Sp.A(K), Guru Besar sekaligus pakar Gastrohepatologi Anak, sebagai upaya mengendalikan risiko perdarahan berulang hingga Zoeya siap menjalani transplantasi.
Pengorbanan Ibu, Memberikan Sebagian Hati untuk Buah Hati
Sebelum menjalani transplantasi, Zoeya bersama ibunya terlebih dahulu melewati rangkaian pemeriksaan dan skrining selama kurang lebih tiga minggu. Setelah melalui proses evaluasi medis, keduanya dinyatakan memenuhi persyaratan untuk menjalani transplantasi hati.
Pada 26 Oktober 2026, operasi transplantasi hati akhirnya dilaksanakan di RSCM. Dalam tindakan tersebut, Zoeya menerima sebagian organ hati dari ibunya sendiri yang bertindak sebagai pendonor.
Proses operasi berlangsung cukup panjang. Sang ibu menjalani tindakan selama kurang lebih 10 jam, sementara operasi terhadap Zoeya berlangsung sekitar 16 jam.
Setelah operasi, sang ibu menjalani perawatan di ruang High Care Unit (HCU) selama dua hari sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap untuk menjalani observasi. Dalam masa pemulihan, sempat terjadi demam yang naik turun dan muntah berulang. Namun, kondisi terakhir menunjukkan perkembangan yang semakin baik.
Setelah menjalani enam hari observasi, sang ibu diperbolehkan melanjutkan pemulihan melalui rawat jalan dengan tetap menjalani kontrol medis secara rutin.
Sementara itu, Zoeya menjalani perawatan intensif di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) selama kurang lebih satu minggu. Seiring menunjukkan tanda-tanda perbaikan dan kondisi yang dinilai stabil, Zoeya kemudian dipindahkan ke ruang rawat inap.
Hingga saat ini, kondisi Zoeya masih dalam pemantauan ketat tim transplantasi RSCM untuk memastikan proses pemulihan berjalan dengan baik.
Oktober Menjadi Bulan Penuh Makna bagi Keluarga
Bagi keluarga, keberhasilan Zoeya menjalani transplantasi menjadi titik penting setelah perjalanan panjang yang penuh perjuangan.
Selama kurang lebih satu tahun, tepatnya sejak Oktober tahun lalu, keluarga harus menjalani kehidupan di Jakarta demi mendampingi pengobatan Zoeya.
Ada makna tersendiri di balik tanggal 26 Oktober 2026. Bulan Oktober juga merupakan bulan pernikahan kedua orang tuanya. Karena itu, keberhasilan transplantasi pada bulan yang sama menjadi kado terindah bagi keluarga.
Kini, harapan terbesar mereka adalah melihat Zoeya segera pulih, tumbuh sehat, dan kembali menjalani masa kecilnya seperti anak-anak lainnya.
Keluarga pun memohon doa dan dukungan masyarakat agar kondisi Zoeya dan ibunya semakin stabil serta diberikan kelancaran dalam seluruh proses pemulihan.
Pesan untuk Orang Tua di Kalimantan Timur
Melalui pengalaman panjang yang telah dilalui, keluarga Zoeya menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat Kalimantan Timur, terutama para orang tua di Kabupaten Berau yang mungkin memiliki anak dengan gejala atau diagnosis serupa.
Mereka mengimbau agar orang tua tidak takut mencari pengobatan dan berkonsultasi mengenai kemungkinan transplantasi hati apabila memang direkomendasikan oleh dokter.
Menurut keluarga, perjalanan pengobatan di Jakarta bukan berarti harus dijalani sendirian. Banyak keluarga pasien atresia bilier dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul, saling memberikan dukungan, berbagi pengalaman, serta menguatkan satu sama lain.
Keluarga juga menyarankan para orang tua untuk bergabung dengan Yayasan Rumah Satu Hati yang dinilai memberikan manfaat melalui edukasi, sosialisasi, serta pendampingan bagi pasien dan keluarga yang menghadapi kondisi serupa.
“Jika bukan kita sebagai orang tuanya, siapa lagi yang akan memberikan harapan hidup yang lebih baik kepada anak kita,” demikian pesan keluarga Zoeya.
Apresiasi untuk Tim Transplantasi RSCM
Keluarga turut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh tim medis RSCM yang telah mendampingi proses pengobatan hingga pelaksanaan transplantasi hati.
Menurut keluarga, RSCM menjadi salah satu pilihan utama untuk pelaksanaan transplantasi hati di Indonesia, khususnya melalui program transplantasi dengan pendonor hidup (living donor).
Kelengkapan perizinan, pengalaman tenaga medis, serta kerja sama berbagai disiplin ilmu menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tindakan transplantasi tersebut.
Keluarga mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat, mulai dari profesor, dokter spesialis, tenaga medis, hingga seluruh petugas yang bekerja bersama secara profesional dalam mendukung keberhasilan tindakan transplantasi.
Perjalanan Zoeya masih membutuhkan waktu dan pendampingan medis. Namun, keberhasilan melewati operasi besar ini menjadi secercah harapan baru bagi keluarga.
Dari Berau, perjuangan seorang anak kecil dan pengorbanan seorang ibu kini menjadi kisah tentang kasih sayang, keteguhan, dan harapan hidup.(**).
Tim DK Jakarta.















