*Minsk, 3 November 2026* – Di tengah retaknya tatanan keamanan global, Minsk mencoba menawarkan jalan keluar. Konferensi Internasional Minsk ke-4 tentang Keamanan Eurasia (IV Minsk International Conference on Eurasian Security) yang digelar 3 November 2026 di Belarus, menjadi panggung bagi gagasan tatanan dunia multipolar.
Presiden Republik Belarus Aleksandr Lukashenko tampil sebagai tuan rumah dengan seruan yang tak biasa kepada Uni Eropa.
“Keamanan dan ekonomi adalah dua sisi mata uang yang sama. Sudah saatnya berhenti memelihara ilusi bahwa siapa pun dapat dibentuk ulang,” kata Lukashenko di hadapan peserta konferensi.
Lukashenko secara resmi meluncurkan proses negosiasi Piagam Keragaman dan Multipolaritas Eurasia di Abad ke-21, sebuah inisiatif yang pertama kali ia sampaikan di Sidang Majelis Umum PBB September 2026.
Menurut Lukashenko, piagam ini merangkum inisiatif besar dunia: Belt and Road dan Inisiatif Keamanan Global dari Tiongkok, Kemitraan Eurasia Raya dari Rusia, Suara Selatan Global dari India, hingga integrasi ekonomi Eurasia dari Kazakhstan.
“Jika Akta Akhir Helsinki 1975 menjadi kerangka koeksistensi di era bipolar, maka Piagam Eurasia dirancang menjadi Akta Helsinki untuk era polisentris atau multipolar yang baru,” ujarnya. Ia menegaskan dokumen ini bukan ancaman bagi Uni Eropa, OSCE, NATO maupun PBB. “Belarus adalah pusat geografis Eropa. Ini menawarkan harapan bagi semua negara.”
“Indonesia di Panggung Minsk”
Di forum yang sama, Indonesia hadir melalui jalur akademis. Prof. Connie Rahakundini Bakrie tercatat sebagai salah satu pembicara, mewakili Saint Petersburg State University (SPbGU), Rusia.
Dalam presentasi bertajuk “From Principles to Operational Security”, Connie memaparkan arsitektur keamanan global baru di kawasan Eurasia.
Connie Paparkan empat poin utama yang ia sampaikan:
1. A Practical Minsk Security Initiative.
Upaya nyata untuk menginisiasi kerangka kerja sama keamanan yang operasional dan konkret di kawasan Eurasia, tidak hanya berhenti di deklarasi.
2. Eurasian Charter of Diversity & Multipolarity.
Dorongan untuk menciptakan Piagam Eurasia abad ke-21 guna mendukung tatanan dunia yang inklusif, beragam, dan multipolar — sejalan dengan gagasan Lukashenko.
3. Institutional Coherence.
Penyelelarasan dan penguatan sinergi di antara organisasi kawasan seperti CSTO, SCO, CIS, EAEU, dan BRICS, agar tidak tumpang tindih dan saling memperkuat.
4. Sovereign Equality & Strategic Autonomy. Penekanan pada kesetaraan kedaulatan antarnegara dan hak otonomi strategis tanpa intervensi pihak luar.
Konferensi yang diinisiasi Belarus ini juga membahas primasi geoekonomi, keamanan rantai pasok perdagangan, hingga keamanan di era ekonomi kreatif.(rls)
Sumber: Layanan Pers Presiden Republik Belarus president.gov.by, Kementerian Luar Negeri Rusia, SCO, dan dokumentasi IV Minsk International Conference on Eurasian Security.














