Disampaikan oleh: JENY CLAUDYA LUMOWA
Ketua Nasional Yayasan Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRCPPA) Indonesia
Menonton film dokumenter “Pesta Babi” membuka mata hati kita semua terhadap realitas pahit yang selama ini tersembunyi di balik kekuasaan. Apa yang tergambar di dalamnya bukan sekadar cerita, melainkan cermin nyata dari bagaimana kekuasaan dimainkan, bagaimana hukum ditekuk, dan bagaimana rakyat kecil menjadi korban utama dari ambisi segelintir orang.
Melihat peristiwa demi peristiwa yang terekam, saya hanya ingin menyampaikan satu hal yang sangat jelas: TNI dan POLRI hanyalah alat kekuasaan. Mereka adalah pelaksana, bukan pemegang kendali. Mereka tidak bisa menghindari perintah yang datang dari atas. Sehebat apa pun pengabdian para prajurit dan anggota kepolisian di garis depan, di lapangan, mereka tetap bergerak sesuai arahan yang ditetapkan oleh pucuk pimpinan negara. Jika arahnya benar, negara aman. Namun jika arahnya keliru, maka rakyatlah yang akan menanggung akibatnya.
Saya hanya ingin mengingatkan sejarah yang pernah kita lalui: Ingatlah apa yang terjadi pada tahun 1998. Saat itu, semuanya bermula dari hal yang sama — ketidakadilan, suara rakyat yang dibungkam, dan perut rakyat yang makin kelaparan. Lihatlah kondisi saat ini: Perut rakyat makin bicara. Harga kebutuhan pokok melambung, kesulitan ekonomi dirasakan di setiap rumah tangga, sementara janji-janji manis seolah hanya menjadi hiasan belaka. Sejarah berulang bukan karena kebetulan, tapi karena pelajaran yang tidak pernah dipahami. Tunggu saja, gelombang itu sedang bergerak pelan namun pasti.
Kepada Bapak Prabowo Subianto, saya ingin menyampaikan pandangan ini secara jujur dan terbuka: Langkah yang diambil Bapak saat ini sama saja artinya sedang membuka kuburan sendiri. Coba kita lihat satu per satu, di mana program yang sukses? Di mana bukti nyata kesejahteraan? Nyatanya, semua terasa kacau, tidak terarah, dan tidak ada solusi yang tuntas. Apa yang diprogramkan di atas sering kali tidak sampai ke bawah, atau justru menimbulkan masalah baru yang lebih besar. Rakyat tidak butuh janji, rakyat butuh kenyataan. Dan kenyataan saat ini menunjukkan bahwa arah kebijakan belum menyentuh hati dan kebutuhan rakyat banyak.
Terakhir, ada satu hal yang tidak boleh dan tidak akan pernah kami diamkan: Jangan pernah sekalipun kalian menyentuh Papua.
Kami mencintai Papua dengan segala kepolosan, ketulusan, dan keindahan hati masyarakatnya. Papua adalah bagian tak terpisahkan dari jiwa bangsa ini. Jangan pernah mencoba mengubah, mencampuri, atau merusak ketulusan mereka demi kepentingan kekuasaan atau ambisi politik. Papua bukan sekadar wilayah di peta, Papua adalah saudara kami. Siapa pun yang berani menyakiti atau merugikan tanah damai itu, berarti berani menghadapi seluruh rakyat Indonesia yang mencintai keadilan dan kebenaran.
Rakyat sedang menilai, sejarah sedang mencatat. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tuai di masa depan. Dan ingatlah selalu: kekuasaan itu hanya titipan, tapi keadilan adalah hak mutlak rakyat.
Jakarta, 29 Mei 2026
Hormat Kami,
JENY CLAUDYA LUMOWA
Ketua Nasional TRCPPA Indonesia















