NOMOR: 031/HUMAS-TRCPPA/V/2026
JAKARTA – Ketua Nasional Yayasan Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRCPPA) Indonesia, Jeny Claudya Lumowa atau yang akrab disapa Bunda Naumi, mengeluarkan pernyataan resmi yang tegas dan jelas terkait pemisahan identitas dan keberadaan organisasi antara TRCPPA dengan Gerakan Masyarakat Peduli Perempuan dan Anak (GERMAS PPA). Pernyataan ini disampaikan guna meluruskan berbagai informasi yang beredar di masyarakat maupun di kalangan pemangku kepentingan, sekaligus menegaskan jati diri dan kemandirian perjuangan yang kami miliki.
Dalam pernyataannya yang berwibawa dan lugas, Bunda Naumi menegaskan batasan yang nyata antara kedua lembaga tersebut beserta alasan mendasar di balik ketegasan sikap yang diambil:
“Saya nyatakan dengan tegas dan terus terang, hingga hari ini belum pernah sekalipun pihak GERMAS PPA datang, berkomunikasi, atau berbicara dengan saya maupun pengurus TRCPPA mengenai rencana, usulan, atau kesepakatan kemitraan kerja sama apa pun. GERMAS PPA adalah GERMAS PPA, dan TRCPPA adalah TRCPPA. Kami adalah dua entitas yang berbeda, berdiri sendiri, bergerak dengan sistem sendiri, dan memiliki sejarah perjuangan yang berbeda pula. Meskipun benar kita memiliki sosok Dewan Pembina Utama yang sama, yaitu Bapak Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Ronny Franky Sompie, S.H., M.H., namun hal itu tidak menjadikan kedua organisasi ini menyatu atau memiliki ikatan kerja sama apa pun.
“Dan perlu saya jelaskan kepada semua pihak, alasan utama mengapa saya menyatakan hal ini dengan begitu tegas dan jelas adalah karena seluruh pengurus dan anggota TRCPPA berjuang, bekerja, dan melayani masyarakat sepenuhnya menggunakan tenaga, pikiran, serta DANA SENDIRI. Kami tidak bergantung pada bantuan pihak lain, tidak membebani negara, dan tidak mengandalkan sumbangan yang mengikat. Setiap perjalanan, setiap pendampingan, setiap biaya operasional yang dikeluarkan di seluruh pelosok negeri adalah murni pengorbanan dan biaya pribadi dari para aktivis yang memiliki hati nurani. Kami membangun dan memajukan organisasi ini dengan keringat dan usaha sendiri, sehingga kemandirian dan nama baik kami adalah harga mati yang harus dijaga.”
Bunda Naumi menambahkan, sosok Bapak Ronny Franky Sompie sangat memahami betul karakter, prinsip, dan cara kerja yang dianutnya selama bertahun-tahun mengabdi di dunia perlindungan perempuan dan anak. Beliau mengerti betul bahwa kemandirian dan ketulusan adalah pondasi utama yang tidak boleh ditawar lagi.
“Bapak Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Ronny Franky Sompie sangat paham betul siapa Bunda Naumi atau Jeny Claudya Lumowa ini. Beliau tahu persis karakter saya: orang yang keras pendiriannya, tegas, bicara apa adanya dan apa yang nyata terjadi, tidak suka diganggu atau dicampuri urusan yang bukan ranahnya, serta selalu bekerja dengan fokus yang sangat tinggi dan konsentrasi penuh pada tujuan utama. Beliau menyaksikan sendiri bagaimana saya memfokuskan seluruh waktu, tenaga, pikiran, dan harta benda pribadi saya selama satu tahun penuh secara khusus mendampingi dan memperjuangkan kasus Angelin, yang dilakukan sepenuhnya di bawah arahan, bimbingan, dan petunjuk langsung dari Bapak Ronny Sompie sendiri. Itu adalah bukti kesetiaan, keteguhan, dan pengorbanan tanpa pamrih yang selalu kami pegang teguh.”
Dalam pernyataan yang menyentuh hati namun tetap kuat, Bunda Naumi juga membuka sisi sejarah dan pengalaman pribadinya yang menjadi landasan utama ketulusan dan ketegasan dalam bekerja mendampingi korban. Beliau mengaku memiliki latar belakang dan pengalaman hidup yang sangat pahit, yang menjadikan dirinya memahami sepenuhnya rasa sakit dan penderitaan yang dialami oleh mereka yang dilindungi.
“Perlu diketahui oleh semua pihak, saya sendiri adalah mantan pengidap trauma yang sangat berat dan mendalam. Saya tahu persis, saya merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi seorang korban. Saya pernah berada di titik terendah, bahkan sempat mengalami kondisi lumpuh akibat dampak psikologis dan fisik dari kejadian yang menimpa saya. Karena saya pernah merasakan sakitnya, pedihnya, dan tidak berdayanya menjadi korban, maka saya bekerja dengan sekuat tenaga, hati, dan pikiran agar tidak ada lagi perempuan atau anak yang merasakan apa yang pernah saya rasakan. Dan karena kami melakukan semua ini dengan biaya dan usaha sendiri, maka setiap langkah kami adalah murni untuk kemanusiaan, tanpa kepentingan lain yang tersembunyi.”
Lebih lanjut Bunda Naumi menegaskan bahwa TRCPPA akan terus berjalan sesuai jalurnya sendiri, memegang teguh aturan organisasi, AD/ART yang berlaku, serta tetap menjaga kemandirian, integritas, dan jati diri sebagai organisasi yang dibangun di atas ketulusan dan pengorbanan para aktivis, tanpa menggantungkan diri atau menyamakan diri dengan organisasi lain mana pun.
“Kami berjalan dengan cara kami sendiri, dengan sistem koordinasi yang kami bangun sendiri, dengan pengalaman yang kami ukir sendiri, dan dengan dana serta usaha yang kami keluarkan dari kantong sendiri. Ketulusan dan kemandirian kami adalah bukti pengabdian yang tidak bisa diukur dengan apa pun. Jangan samakan kami dengan pihak lain, karena kami adalah TRCPPA, yang berdiri tegak dengan sejarah, pengorbanan, dan perjuangan yang telah tercatat jelas di mata hukum dan di hati masyarakat.”
Pernyataan ini dikeluarkan guna memberikan kejelasan mutlak kepada publik, aparat penegak hukum, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman, penafsiran keliru, atau penyatuan nama yang tidak memiliki dasar fakta maupun hukum.
Dikeluarkan di: JAKARTA
Diterbitkan Oleh:
BAGIAN HUBUNGAN MASYARAKAT
YAYASAN TIM REAKSI CEPAT PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK (TRCPPA) INDONESIA
KETUA NASIONAL: JENY CLAUDYA LUMOWA














