Derap Kalimantan. Com | Bencana banjir yang melanda wilayah Bogor, Depok, Jakarta, Tangerang, dan Bekasi telah menyebabkan kerugian yang diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah. Masyarakat mengalami kehilangan harta benda, rumah, serta kesulitan dalam aktivitas sehari-hari akibat dampak banjir yang masih terasa hingga hari kelima pascainsiden.
Menanggapi hal tersebut, Prof. DR. KH. Sutan Nasomal, SH, MH, sebagai pemerhati masyarakat yang terdampak banjir, menghimbau Presiden RI, Jenderal Haji Prabowo Subianto, untuk lebih tegas dalam menangani permasalahan ini. Salah satu langkah yang ia sarankan adalah bekerja sama dengan pemerintah Belanda guna memperbaiki fungsi Bendungan Ciawi di Bogor, yang dinilai gagal menjalankan perannya dalam mengendalikan air Sungai Ciliwung saat musim hujan.
Menurut Prof. Sutan Nasomal, kegagalan Bendungan Ciawi terjadi karena tidak adanya perencanaan yang matang serta kurangnya keterlibatan para ahli yang kompeten dalam proyek tersebut. Akibatnya, bendungan tidak mampu mencegah banjir, justru menciptakan kerugian besar bagi masyarakat. Oleh karena itu, ia menegaskan perlunya penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pembangunan bendungan ini, agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Selain itu, ia juga menyoroti permasalahan sampah yang mencemari sungai dan kali, yang turut memperparah banjir. Menurutnya, akar masalah ini terletak pada kurangnya fasilitas penampungan sampah di tingkat kelurahan dan desa, sehingga masyarakat kesulitan membuang sampah pada tempat yang semestinya. Ia mendorong agar pemerintah menerapkan peraturan daerah (Perda) yang mewajibkan kebersihan sungai, serta memberikan sanksi tegas berupa denda bagi kelurahan atau desa yang lalai dalam mengelola sampah di wilayahnya.
Lebih lanjut, Prof. Sutan Nasomal juga meminta Presiden Prabowo untuk menegakkan hukum secara lebih tegas dalam berbagai aspek tata kelola negara, termasuk dalam pengelolaan sampah. Ia mencontohkan Singapura sebagai negara yang sukses dalam memanfaatkan sampah menjadi sumber energi, campuran aspal berkualitas, bahan baku bata, bahkan bahan bakar minyak (BBM). Dengan sumber daya manusia yang cerdas dan inovatif, ia meyakini bahwa Indonesia juga mampu mengimplementasikan teknologi pengolahan sampah demi kemajuan bangsa.
Terakhir, ia mengingatkan bahwa negara harus hadir secara nyata dalam setiap upaya pembangunan dan kebijakan publik. Jangan sampai pekerjaan diserahkan kepada pihak yang bukan ahlinya, karena hal itu hanya akan menimbulkan kehancuran. Ia juga mengkritik pemimpin daerah yang hanya mementingkan pencitraan, turun ke lapangan tanpa memberikan solusi konkret bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Dengan langkah-langkah tegas dan kebijakan yang terarah, ia berharap Indonesia dapat mengatasi permasalahan banjir dan pengelolaan lingkungan secara lebih efektif di masa mendatang.
Narasumber:
Prof. DR. KH. Sutan Nasomal, SH, MH















