Jakarta —Situasi perang di Timur Tengah semakin kompleks. Iran yang awalnya membela diri setelah diserang Israel, kini tampak sendirian menghadapi kekuatan gabungan Israel dan Amerika Serikat. Rusia yang selama ini dikenal sebagai sekutu Iran justru tidak tampak memberikan bantuan militer secara nyata.
Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH — pakar hukum internasional, ekonom, pengamat militer, dan Presiden Partai Oposisi Merdeka — menduga ada kesepakatan tersembunyi antara Rusia dan Amerika Serikat.
“Apakah Rusia sudah sepakat dengan Amerika? Diam-diam terjadi tawar-menawar: Ukraina diberikan kepada Rusia, sementara Palestina diserahkan untuk Israel,” ujarnya kepada media di Jakarta.
Jika dugaan ini benar, Iran harus menelan pil pahit karena perang yang terjadi justru melemahkan kekuatan militernya, sekaligus membuka jalan bagi Israel untuk mencaplok Palestina dan negara-negara Timur Tengah lainnya yang lemah.
Amerika Serikat saat ini mengerahkan ratusan pesawat tempur, rudal jarak jauh, dan armada militernya ke sejumlah negara Timur Tengah untuk mendukung Israel. Israel pun menggunakan peralatan perang canggih buatan Amerika untuk melancarkan serangan ke Iran.
China dan Korea Utara, yang dikenal sebagai sahabat dekat Iran, hingga kini masih memilih diam. Menurut Prof. Sutan, jika kedua negara itu ingin ikut membela Iran dan Palestina, maka mereka harus terlebih dahulu mendapat restu dari Rusia. Tanpa itu, kekuatan mereka tidak akan maksimal untuk melawan dominasi Amerika dan Israel.
Prof. Sutan juga mengingatkan bahwa Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara tidak boleh lengah. “Perang di Timur Tengah pasti berdampak pada keamanan dan stabilitas kawasan, apalagi jika Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak mampu menjalankan fungsinya,” katanya.
Ia pun menghimbau Presiden RI Jenderal Haji Prabowo Subianto untuk berhati-hati dalam menyusun strategi menghadapi kemungkinan meletusnya Perang Dunia III. Menurutnya, Amerika Serikat memang sengaja memancing konflik untuk menguasai sumber daya baru, memperluas pengaruhnya di Asia, dan memenangkan persaingan ekonomi dengan China melalui kekuatan militer.
Prof. Sutan menilai ego para pemimpin negara pemilik senjata nuklir bisa memicu kehancuran besar-besaran. “Situasi saat ini memaksa negara-negara pemilik nuklir untuk menjadikannya sebagai penentu geopolitik ke depan,” ujarnya.
Ia pun mempertanyakan: apakah Indonesia sudah siap menghadapi jika Perang Dunia III benar-benar pecah?
Narasumber:
Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH
(Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Jenderal Komite Mantan Preman Indonesia Istighfar, Pengasuh Ponpes Ass Sama Plus, Jakarta)















