LEBAK – Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto membuka rangkaian Bulan Bung Karno 2026 di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (2/6/2026). Dalam pidatonya, Hasto mengaitkan semangat Soekarno dengan kritik terhadap praktik penindasan yang ia sebut mirip cara kolonial.
Acara pembukaan menandai dimulainya kegiatan Bulan Bung Karno yang akan berlangsung sepanjang Juni 2026, 1-30 Juni. Museum Multatuli dipilih sebagai lokasi karena sejarahnya terkait novel Max Havelaar karya Multatuli yang mengkritik kolonialisme Belanda.
Hadir dalam acara tersebut anggota DPR RI Ribka Tjiptaning dan Bonnie Triyana, Ketua DPD PDIP Banten Ade Sumardi, Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah, serta Ketua DPRD Lebak Juwita Wulandari.
“Anak muda harus memegang idealisme. Pelajari kepemimpinan Bung Karno bagi bangsa, negara, termasuk dunia,” ujar Hasto.
Hasto menekankan relevansi gagasan Soekarno tentang pembebasan rakyat marhaen. Ia menyorot fenomena pembungkaman kelompok kritis sebagai ancaman bagi demokrasi.
“Sejarah republik lahir dari kebebasan berserikat, berkumpul, dan menyampaikan pendapat. Ketika ada penindasan, kelompok kritis tidak boleh dibungkam,” katanya.
Menurut Hasto, Bulan Bung Karno menjadi momentum membela rakyat miskin melalui perubahan struktural ekonomi dan budaya. Ia juga mengingatkan bahwa Soekarno tercatat tiga kali berkunjung ke Rangkasbitung, yang menurutnya menumbuhkan nalar kritis masyarakat.
Hasto menarik benang merah antara Museum Multatuli dan karya Max Havelaar. Tulisan kritis Multatuli itu, sebutnya, mengguncang Eropa dan melahirkan Politik Etis yang membuka akses pendidikan bagi pribumi.
“Setelah merdeka, jangan menerapkan cara-cara kolonial yang menindas rakyat sendiri,” tegasnya.**
DW.















