*YOGYAKARTA* — Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) Kota Yogyakarta menyoroti kondisi hutan adat di Papua Selatan setelah menyaksikan pemutaran film dokumenter _Pesta Babi_. Kegiatan tersebut berlangsung pada 20 Mei 2026 di Oase Cafe Taman Siswa Mergangsan, Yogyakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional.
Ketua ISRI Kota Yogyakarta Antonius Fokki Ardiyanto mengatakan film tersebut menggambarkan kerusakan lingkungan yang terjadi secara luas di wilayah Papua Selatan. Menurutnya, pembukaan lahan dalam skala besar untuk kepentingan investasi, ketahanan pangan, energi, dan proyek bio etanol menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi hutan adat.
“Hutan yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat adat, sumber pangan, identitas budaya, dan pusat peradaban suku-suku di Papua perlahan terancam hilang,” ujar Antonius, Rabu [20/5/2026].
ISRI menilai kebijakan pembangunan yang memberi ruang besar bagi eksploitasi sumber daya alam di Papua Selatan berkaitan dengan arah kebijakan nasional sejak era Presiden Joko Widodo dan dilanjutkan Presiden Prabowo Subianto. Organisasi tersebut menekankan bahwa program transisi energi dan pengembangan bio etanol tidak seharusnya mengorbankan ekosistem hutan adat maupun hak masyarakat asli Papua.
ISRI juga menyampaikan bahwa pembangunan nasional perlu berlandaskan pada keadilan ekologis, penghormatan terhadap hak masyarakat adat, dan keberlanjutan lingkungan. Menurut Antonius, momentum Hari Kebangkitan Nasional dapat menjadi refleksi bersama agar pembangunan Indonesia tidak berjalan di atas penderitaan masyarakat dan kerusakan alam.
Dalam pernyataan sikapnya, ISRI mengajak akademisi, aktivis lingkungan, organisasi masyarakat, mahasiswa, dan berbagai elemen bangsa untuk mendukung upaya penyelamatan hutan Papua.
“Menjaga Papua berarti menjaga masa depan Indonesia,” kata Antonius.
Tim DK.














