“Operasi Kodok” yang sedang dimainkan dalam situasi politik Indonesia yang semakin rumit dan ruwet, jelas dikendalikan oleh sosok yang memiliki pengaruh kuat dan hebat dari kekuasaan untuk mengarahkan terpaan angin puting beliung yang tengah melanda negeri kita. Setidaknya dari riapnya kemunculan buzzer yang bertebaran di media sosial berbasis internet meyakinkan dana besar sudah mengalir seperti sungai Bengawan Solo yang mengalir sampai jauh entah dimana kelak muaeanya akan berakhir sesudah menggerus tebing dan cadas sebagai penahan agar tidak sampai menelan banyak korban.
Penganatan Sri Eko Sriyanto Galgendu ikhwal “Operasi Kodok” yang dia sinyalir melalui telik sandi sebagai bagian dari kecerdasan spiritual tampak nya sungguh menemukan momentum dalam kegamangan publik yang tengah menghadapi kondisi dan situasi tidak menentu, seperti harga bahan bakar minyak yang membayangi harga dari kebutuhan pokok yang tidak terlalu signifikan melonjak, namun semakin terasa mencelik bagi kehidupan rakyat. Sehingga dari penghasilan yang tidak seberapa nilainya itu, aktivitas serta mobilitas untuk mekakukan berbagai usaha terasa jadi tersumbat.
Perseteruan antara satu pihak dengan pihak lain tampak makin meluas dan beringas berseteru seru dalam media sosial yang semakin meyakinkan bahwa ideologi tentang no viral no justis telah berkembang, tidak lagi untuk mencari serta upaya menjaga keadilan dan kebenaran tidak tidak runtuh bersama nilai rupiah bersujud pada dollar. Tapi, no viral no justis semakin menunjukkan kesaktiannya untuk melalukan pembenaran kebohongan yang dilakukan sekalian menyihir publik papa pencitraan dalam membangun legesi yang sesungguhnya hasil dari penghisapan darah dan keringat rakyat.
Yang pasti, “Operasi Kodok” sangat membahayakan bagi bangsa dan negara bisa terpecah dan terbelah dapat menelan korban siapa saja, termasuk pengendali atau sutradaranya sampai para pemain yang dominan tidak terlalu paham pada peran yang dinainkan, kecuali hanya sebatas nilai honoraria semata.
Dari kajian dan pengamatan Atlantika Institut Nusantata, “Operasi Kodok” sungguh terkesan begitu terstruktur, sistematis dan massif namun sulit untuk diidentifikasi sosok pemain yang ada dibalik layar yang terbentang lebar dan panjang itu, seperti bayang-bayang dari dalam pementasan wayang purwa yang begitu tertata, rapi dan indah dalam alunan tembang atau suluk dengan orkestrasi tetabuhan gamelan yang paripurna.
Begitulah “Operasi Kodok” dalam narasi yang nyaris klasik usianya, seperti kisah pesugihan — hasrat ingin kaya secara instan, yang kini dipraktekkan dengan cara korupsi — mitosnya dari kebiasaan memeluhara kodok. Tradisi dari kepercayaan serupa ini memang sudah ada jauh sebelum jaman Joko Tingkir meninggalkan kisahnya di Bengawan Solo beberapa tahun silam, seperti mitos tentang bulus jimbung, dimana habitat dari kura-kura merasa hidup bisa lebih nyaman dan tenteram, meski harus jadi pemangsa makhluk hidup yang lain yang ada disekitarnya.
Ancaman dan bahayanya dari “Operasi Kodok” ini, kata Sri Eko Sriyanto Galgendu, bisa menelan banyak korban. Hanya saja yang tidak perlu dicemaskan, “Operasi Kodok” ini juga bisa melahap pemain serta sutradaranya. Semacam kualat atau tullah. Karena “Operasi Kodpk” akan menelan banyak korban dan tumbal.
Banten, 2 Mei 2026















