Sambaliung, DerapKalimantan.com— Kondisi lalu lintas di Jembatan Sambaliung, Kabupaten Berau, dilaporkan mengalami kepadatan yang cukup signifikan sejak awal Ramadhan 1447 Hijriah, Jembatan yang menjadi jalur utama penghubung antara ibu kota kabupaten, Tanjung Redeb, dengan wilayah Sambaliung dan kawasan pesisir tersebut kerap mengalami kemacetan, terutama pada jam-jam sibuk menjelang waktu berbuka puasa.
Berdasarkan pantauan jurnalis Derap Kalimantan di lapangan, kepadatan kendaraan hampir terjadi setiap sore hari. Arus kendaraan roda dua, roda empat, hingga angkutan barang melintas secara bersamaan di jembatan yang telah berusia sekitar **25 tahun** itu. Kondisi tersebut kerap memicu antrean panjang bahkan penumpukan kendaraan di bagian tengah jembatan.
Jembatan Sambaliung sendiri merupakan salah satu **urat nadi transportasi** bagi masyarakat di wilayah tersebut. Selain digunakan oleh warga yang beraktivitas sehari-hari, jalur ini juga dilintasi kendaraan logistik dan angkutan barang yang menuju maupun keluar dari wilayah pesisir Kabupaten Berau.
Situasi menjadi semakin padat ketika kendaraan berukuran besar, termasuk truk yang membawa peralatan berat, melintas secara bersamaan. Kondisi ini tidak jarang membuat arus lalu lintas tersendat dan bergerak sangat lambat.
Sejumlah warga Sambaliung mengaku kecewa karena pada saat kondisi lalu lintas padat, **petugas pengatur lalu lintas tidak terlihat di lokasi**. Padahal, menurut mereka, kehadiran petugas sangat dibutuhkan untuk mengurai kemacetan dan menjaga kelancaran arus kendaraan.
“Kalau sudah sore menjelang berbuka, kendaraan menumpuk di jembatan. Tapi sering tidak ada petugas yang mengatur. Padahal ini jalur penting,” ujar seorang warga Sambaliung yang saat itu sedang melintas bersama keluarganya.
Selain masalah kemacetan, masyarakat juga menyoroti lampu hias tematik yang terpasang di sisi jembatan. Lampu warna-warni yang sebelumnya dipasang melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) tersebut kini dilaporkan tidak lagi berfungsi.
Menurut informasi warga, lampu hias tersebut hanya sempat menyala beberapa minggu setelah diresmikan oleh Bupati Berau. Setelah itu, lampu-lampu tersebut tidak lagi terlihat beroperasi hingga sekarang.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat segera melakukan evaluasi terhadap kondisi jembatan, baik dari sisi pengaturan lalu lintas maupun perawatan fasilitas yang ada. Warga menilai, keberadaan lampu hias tersebut seharusnya tidak hanya menjadi simbol atau pencitraan semata, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan memperindah kawasan jembatan.
Dengan meningkatnya aktivitas masyarakat selama bulan Ramadhan, warga berharap ada langkah konkret dari pihak berwenang, seperti penempatan petugas lalu lintas pada jam-jam sibuk serta perbaikan fasilitas yang sudah terpasang, agar arus transportasi di Jembatan Sambaliung tetap aman dan lancar.
TIM Liputan DK.















