Jakarta, 1 Januari 2026 – Jeny Claudya Lumowa, Ketua Koordinasional Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia (TRCPPA), menyampaikan keprihatinannya atas kondisi BRIPKA Batias Yikwa, Bhabinkamtibmas Kampung Baburia, Polres Keerom, yang tercatat telah tiga kali gagal dalam mengikuti Seleksi Inti Polri (SIP).
BRIPKA Batias Yikwa, putra asli Papua Pegunungan Wamena, merupakan sosok polisi berprestasi yang telah menerima Hoegeng Corner Award 2024 dan Hoegeng Award 2025 atas dedikasinya dalam pengabdian kepada masyarakat. Ia mengaku sempat berharap penghargaan tersebut dapat menjadi nilai tambah atau dukungan dalam upayanya melanjutkan pendidikan jenjang SIP di lingkungan Polri.
Namun, harapan tersebut belum terwujud. Pada pelaksanaan tes psikologi terbaru, BRIPKA Batias memperoleh nilai 57 dan dinyatakan tidak lulus. Saat berkoordinasi dengan panitia seleksi untuk meminta pertimbangan berbasis penghargaan yang dimilikinya, ia mendapatkan penjelasan bahwa Hoegeng Award hanya dicatat sebagai prestasi, tanpa memiliki kekuatan administratif untuk memberikan bantuan atau afirmasi dalam proses seleksi SIP.
Panitia juga menyampaikan bahwa dukungan khusus untuk mengikuti sekolah SIP hanya dapat diberikan melalui rekomendasi Kapolri atau Kakorbinmas, akses yang dinilai sulit dijangkau oleh BRIPKA Batias mengingat keterbatasan jaringan dan akses langsung ke Mabes Polri.
Rasa prihatin turut disampaikan oleh Bunda Naomi, yang menyesalkan kondisi yang dialami oleh penerima penghargaan nasional tersebut. Senada dengan itu, Jeny Claudya Lumowa menegaskan perlunya klarifikasi terbuka mengenai fungsi, manfaat, dan kekuatan institusional Hoegeng Award.
Menurut Jeny, kondisi ini menimbulkan pertanyaan publik, mengingat dalam praktiknya, sejumlah penghargaan dari kementerian maupun lembaga masyarakat—termasuk yang diberikan oleh TRCPPA—justru kerap lebih diakui oleh masyarakat dan instansi pemerintah sebagai dasar pertimbangan dalam mendukung kemajuan karier aparatur berprestasi.
“Penghargaan seharusnya tidak berhenti sebagai simbol, tetapi juga menjadi instrumen nyata untuk mendukung keberlanjutan pengabdian dan peningkatan kapasitas penerimanya,” tegas Jeny.
Tim DK.















