Jakarta – Jumat, 16 Oktober 2026 – Banyak orang mengenal Masjid Apung An-Nur sebagai bangunan ikonik yang terapung di atas perairan wilayah Jakarta, sering kali menjadi lokasi foto favorit wisatawan maupun warga lokal. Namun di balik pesona arsitekturnya, terdapat peran yang jarang mendapat sorotan: masjid ini telah tumbuh menjadi ruang temu lintas-kelompok warga yang tinggal di sekitar pesisir dan aliran sungai ibu kota.
Berbeda dengan narasi umum yang hanya menyoroti keindahan bangunan atau sejarah pembangunannya, pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa sejak beberapa waktu terakhir, masjid ini kerap menjadi lokasi kegiatan bersama warga, mulai dari pengajian rutin, diskusi lingkungan hingga bakti sosial bagi keluarga-keluarga yang tinggal di pemukiman tepi air. Para pengurus masjid menyatakan bahwa keberadaan struktur yang berada di atas permukaan air juga menjadi pengingat akan hubungan antara masyarakat Jakarta dengan ekosistem perairan yang selama ini sering terabaikan.

“Sering kali orang datang hanya untuk melihat pemandangan, padahal di sini ada jemaat yang datang dari berbagai latar belakang, ada juga warga pesisir yang butuh ruang berkumpul yang aman,” ujar salah satu pengurus inti Masjid An-Nur. Ia menjelaskan bahwa pihak pengelola mulai merancang program-program yang menghubungkan ibadah dengan kepedulian terhadap lingkungan perairan, misalnya kampanye pengurangan sampah plastik di sekitar lokasi masjid.

Meski demikian, masih ada tantangan: akses menuju lokasi yang terkadang terpengaruh pasang surut air laut, serta kebutuhan perawatan rutin struktur apung agar tetap aman digunakan jemaat. Pengelola berharap perhatian publik tidak hanya tertuju pada nilai estetika masjid, melainkan juga pada potensinya sebagai pusat penguatan kebersamaan warga pesisir Jakarta.
Reporter: Johan Sopaheluwakan















