Jacob Ereste :
Banten, 25 April 2026, Pada dasarnya, semua umat beragama memiliki potensi spiritual yang dapat dikembangkan bersama umat beragama apapun, tanpa merasa terganggu oleh perbedaan cara mencapai kedekatan diri dengan Tuhan, sehingga antara umat beragama dapat saling memperkaya cara pendekatan yang paling efektif dan efisien untuk mencapai tingkat tertentu dalam laku spiritual yang sangat diperlukan oleh umat manusia untuk menata peradaban baru agar tidak terjebak dalam nilai-nilai material — duniawi — yang telah menggerus fondasi peradaban yang berbasis spiritual, sehingga etika, moral dan akhlak mulia manusia yang telah dianugerahkan oleh Tuhan tidak sia-sia, dan menjerumuskan manusia semakin materialistik, kapitalis.
Keyakinan terhadap Tuhan — bagi umat beragama apapun yang ada — merupakan potensi yang patut dikembangkan, sehingga nilai-nilai ilahiyah yang acap dipercaya semacam cahaya dari langit — dapat memberi nilai tambah dari kekuatan dan ketangguhan batin dan jiwa yang kering dan gersang, lantaran tidak pernah tersentuh angin surga yang mampu menenteramkan jiwa dan batin.
Modal dasar suku bangsa Nusantara — yang kini telah bersatu dalam entitas bangsa dan negara Indonesia dapat semakin memperkuat gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual yang sangat diperlukan untuk membangun integritas bangsa yang kuat — berkepribadian teguh — dengan karakter religius yang sangat luar biasa untuk memimpin gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual yang tangguh dalam membangun konstruksi peradaban dunia yang sedang rusak tergerus atau bahkan mengalami benturan, sperti yang riuh dicemaskan oleh para ilmuwan Barat. Setidaknya Samuel P. Huntington lewat bukunya “The Clash of Civilization and the Remaking of World Order” sejak 30 tahun silam (1996). Melalui teorinya yang memprediksi konflik di masa depan — seperti yang telah kita rasakan sekarang bahwa”garis retakan” antara peradaban-peradaban, seperti ketegangan dunia Barat dan Islam, atau semacam persaingan Barat dengan Tiongkok yang semakin menjamur. Tapi 4 tahun sebelum pendapat Huntington menjadi viral, Francis Fukuyama telah menulis “The End of History and the Last Man” pada tahun 1992.
Dari pihak yang lain, Edward Said sebagai pakar orientalis mengkritik Huntington, bahwa peradaban bukanlah kotak tertutup, dan sejarah telak menyaksikan paparan dinamika interaksi antar peradaban. Agaknya, premis dari Francis Fukuyama, runtuhnya Komunisme pada akhir Perang Dingin, demokrasi liberal dan kapitalisme telah menjadi bentuk pemerintahan serta ekonomi yang sulit untuk ditandingi keberhasilannya. Tidak lagi ada sistem alternatif yang kredibel untuk menggantikannya.
Karena menurut Francis Fukuyama bahwa manusia telah mencapai titik akhir dari evolusi ideologi politik. Realitasnya sekarang, demokrasi liberal telah menjadi bentuk pemerintahan yang dominan di seluruh dunia.
Yang menarik, Francis Fukuyama menandai tentang manusia yang kehilangan tujuan dan makna hidup setelah mencapai, kepuasan material, sehingga jelas manusia sekarang memerlukan nilai-nilai spiritual. Karena itu, teori tentang peradaban yang diungkap Alfin Toffler sejatinya peradaban terus mengalami evolusi akibat dari pengaruh teknologi dan ilmu pengetahuan serta arus deras komunikasi yang begitu cepat. Adapun teori dari perkembangan peradaban ini, kata Alfin Toffler seperti gelombang pertama pada era agraris pada kurun waktu 800 SM – 1500 M. Lalu gelombang babak kedua dari pergerakan peradaban 1500 M – 1970 M yang ditandai oleh revolusi industri. Dan sekarang, 1970 M masih terus berlangsung dengan teknologi informasi dan komunikasi untuk perkembangan masyarakat dalam arti luas. Jadi, dalam teori evolusi peradaban jelas dan pasti, kehadiran teknologi dan arus informasi tidak akan menimbulkan benturan peradaban. Jadi bisa saja yang terjadi sekedar guncangan dari peradaban. Karena itu, kehadiran spiritualitas dalam untuk mengatasi guncangan-guncangan peradaban yang terjadi semakin relevan diperlukan oleh umat manusia di dunia.
Redaksi DK.














