Data Bloomberg mencatat rupiah sudah menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan Kamis (14/5/2026). Bahkan sehari sebelumnya sempat menyentuh level paling lemah dalam sejarah modern di Rp17.600 per dolar AS. IHSG pun ambrol 19,55% year-to-date, sementara pelemahan terjadi di tengah tingginya “risk premium” Indonesia yang membuat investor terbang ke negara tetangga.
Ini bukan pertama kalinya Indonesia berada di situasi genting. Yang menarik, saat rupiah nyaris “tumbang”, sebuah video lama Presiden ke-3 RI BJ Habibie kembali viral.
“Saya akan hadapi inflasi, suku bunga tinggi, nilai rupiah anjlok 20%. Makanan kurang, PHK banyak, ini lebih penting daripada pesawat terbang. Saya dahulukan ini dulu. Jadi saya ngalah untuk menang. Yang menang itu rakyat.”
Kalimat itu diucapkan Habibie dalam suasana krisis moneter 1998.
Ia seorang engineer pesawat terbang, bukan ekonom. Namun ia menggunakan pendekatan “aeronautika” untuk membaca ekonomi: Rupiah ibarat pesawat yang sedang stall (kehilangan daya angkat). Jika tidak seimbang dan distabilkan lebih dulu, maka akan jatuh.
Habibie rela menunda proyek pesawat terbang ambisi terbesarnya demi prioritas menyelamatkan ekonomi.
Hasilnya?
Rupiah merangkak naik dari Rp17.000 menjadi Rp6.500 per dolar AS. Pertumbuhan ekonomi naik dari minus 13,13% menjadi positif 0,79%, dan tingkat kemiskinan turun dari 24,2% menjadi 23,4% dalam masa pemerintahannya yang singkat.
Kini bandingkan dengan era Prabowo. Ketika rupiah tengah sekarat, kebijakan pemerintah justru berlawanan arah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang justru menyedot anggaran raksasa hingga Rp355 triliun pada 2026.
Kontribusi terhadap PDB?
Hanya sekitar 0,06% sangat kecil dibandingkan dana yang digunakan.
Ekonom Celios bahkan menilai program ini lebih banyak menggeser pola konsumsi, bukan menciptakan permintaan baru.
Selain MBG, ada proyek Koperasi Merah Putih yang merekrut 30.000 manajer digaji APBN selama dua tahun. Anggaran gaji diambil dari sisa dana program yang belum terserap, tapi publik bertanya mengapa proyek gurih ini jalan sementara ekonomi sedang sakit parah?
Belum lagi proyek hilirisasi Rp116 triliun dan target ambisius tiga juta rumah per tahun yang dinilai overambitious.
BJ Habibie Menunda Ambisi, Mengalah untuk Menang
Habibie mengajarkan satu hal sederhana prioritas itu penting. Ketika pesawat akan jatuh, fokuslah menyelamatkan pesawat dan penumpang, bukan membangun kabin baru. Ia rela “ngalah untuk menang” karena yang menang pada akhirnya adalah rakyat. Kini, saat “pesawat” Indonesia kembali oleng, pilihan yang diambil justru kebalikannya, proyek jalan terus, rakyat diminta berhemat.
Akankah Indonesia selamat?
Pertanyaan itu hanya bisa dijawab waktu. Namun satu hal yang pasti dalam badai, kapten yang baik tahu kapan harus melambat, kapan harus berbelok, dan kapan harus menunda perjalanan demi keselamatan semua penumpang.
Karena presiden bukan sekadar pemimpin, ia adalah nahkoda yang memegang kemudi.
“Dan dalam ombak setinggi gunung, menginjak gas terlalu dalam bukanlah tanda keberanian, melainkan resep untuk karam”.
#BJHabibie #Habibie #Prabowo #Rupiah















