Derapkalimantan.com – Jakarta – Kasus dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh puluhan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok di Apartemen Mangga Dua Court (MDC) tidak hanya menimbulkan masalah keamanan dan ketertiban bagi penghuni, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pemilik unit. Banyak pihak mempertanyakan dampak peristiwa ini terhadap citra hunian yang selama ini dipasarkan sebagai properti premium, serta potensi penurunan nilai jual dan sewa yang dapat merugikan investasi para pemilik.

Berdasarkan data yang dihimpun, setidaknya terdapat 14 unit di area West Tower yang tercatat dihuni oleh TKA asal Tiongkok, dengan rincian nomor unit: W.14-01, W.14-02, W.14-05, W.12-05, W11-02, W11-04, W10-04, W09-01, W08-04, W07-04, W06-02, W04-02, W03-01, dan W03-05. Bahkan, informasi yang beredar di kalangan penghuni menyebutkan jumlahnya jauh lebih besar, yakni sekitar 29 unit yang saat ini ditempati oleh warga negara asing. Keberadaan mereka dalam jumlah yang cukup masif ini, ditambah dengan berbagai laporan pelanggaran yang dilakukan, dinilai telah mengubah citra lingkungan hunian yang seharusnya eksklusif dan tertib.
Keresahan bermula dari insiden yang terjadi pada perayaan Tahun Baru, 1 Januari 2026. Sekelompok TKA yang menempati unit 8-04 Barat diketahui menggelar pesta minuman keras dan menggunakan rokok elektrik (vaping) hingga dalam keadaan mabuk di area koridor publik. Perilaku yang tidak terkendali ini jelas melanggar peraturan tata tertib hunian, namun dampaknya tidak hanya berhenti pada gangguan ketenangan, tetapi juga memberikan persepsi negatif bagi siapa saja yang melihat atau mendengar peristiwa tersebut.
Situasi semakin memprihatinkan ketika sejumlah saksi mata melaporkan adanya peristiwa yang tidak pantas. Oknum TKA tersebut terlihat membawa perempuan dan bahkan menyeret-nyeret perempuan di depan area lift, di mana para perempuan tersebut terlihat menangis dan berteriak-teriak meminta tolong. Ketika ditegur oleh penghuni bernama S dari unit 8-05, mereka justru bersikap arogan, melakukan intimidasi, menantang berkelahi, hingga berani mencatut nama tokoh publik seolah-olah memiliki perlindungan khusus.
“Puluhan TKA asal Tiongkok berpesta miras dan vaping dalam keadaan mabuk. Kami melihat mereka menyeret-nyeret perempuan di depan lift, sedangkan perempuan itu menangis dan meminta tolong. Saat kami tegur, mereka malah mengintimidasi, mengajak berantem, dan menyebut-nyebut nama Ahok seolah punya backing,” ungkap saksi yang meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan.
Peristiwa-peristiwa yang viral di lingkungan sekitar ini dinilai telah memberikan dampak buruk pada nama baik Apartemen MDC. Bagi para pemilik unit yang membeli properti ini sebagai investasi, situasi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Pasalnya, citra buruk yang melekat pada sebuah hunian dapat menurunkan minat calon pembeli atau penyewa baru. Akibatnya, nilai jual unit dapat tertekan, sementara harga sewa yang biasanya menjadi sumber pendapatan pasif juga berpotensi menurun drastis.
Kekhawatiran ini semakin diperparah dengan adanya laporan bahwa oknum TKA tersebut juga merusak struktur bangunan apartemen. Mereka diketahui melakukan pembongkaran lantai hingga menimbulkan lubang yang tembus ke lantai bawah, yang jelas melanggar peraturan bangunan dan berpotensi membahayakan keselamatan seluruh penghuni gedung. Kerusakan fisik seperti ini tidak hanya membebani biaya perbaikan yang mahal, tetapi juga semakin memperkuat persepsi bahwa lingkungan hunian ini tidak terawat dan tidak aman.
Isu yang paling mendasar yang turut memperberat situasi adalah dugaan bahwa keberadaan para TKA tersebut tidak sesuai dengan ketentuan izin tinggal yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi. Beredar informasi bahwa dokumen yang mereka miliki tidak mencantumkan alamat tempat tinggal yang sesuai, atau bahkan tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. Hal ini semakin menambah pandangan negatif, karena menunjukkan bahwa manajemen hunian tidak menjalankan tugasnya dengan baik dalam menyeleksi calon penghuni.
Sejumlah pemilik unit mengaku mulai mendapatkan pertanyaan dari calon pembeli atau penyewa mengenai keamanan dan kondisi lingkungan hunian setelah kasus ini beredar luas. “Saya sudah menyiapkan unit untuk disewakan, tapi beberapa calon penyewa menolak setelah mendengar kabar tentang keributan dan perilaku penghuni asing di sini. Mereka khawatir tidak aman dan lingkungannya tidak nyaman,” ungkap salah seorang pemilik unit yang enggan disebutkan namanya.

Kondisi ini membuat para pemilik unit semakin mendesak agar kasus ini segera diselesaikan secara tuntas. Mereka menuntut agar manajemen apartemen bertindak tegas menertibkan oknum yang melanggar, serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses penyewaan ke depannya. Para pemilik juga berharap agar instansi terkait dapat memberikan kepastian hukum, sehingga citra buruk yang sudah terlanjur melekat dapat segera diperbaiki dan nilai investasi mereka tetap terjaga.
Para penghuni dan pemilik unit sepakat bahwa hunian yang aman, tertib, dan memiliki citra baik adalah aset utama yang harus dijaga bersama. Jika kasus ini dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan kerugian yang dialami tidak hanya bersifat materiil berupa penurunan nilai properti, tetapi juga kerusakan hubungan antarwarga yang sulit untuk diperbaiki kembali.
Hingga saat ini, tim redaksi masih terus berupaya meminta tanggapan dari pihak manajemen Apartemen MDC dan instansi terkait. Penanganan yang cepat dan tepat dinilai sangat krusial untuk menyelamatkan citra hunian ini sekaligus melindungi hak-hak para pemilik dan penghuni yang telah berinvestasi dan tinggal di lingkungan tersebut. (Red)















